jump to navigation

PENERAPAN MCT (MULTIPURPOSE COMMUNITY TELECENTERS SEBAGAI ALTERNATIF PEMBERDAYAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM)” 7 April 2010

Posted by sybcommunity in ARTIKEL.
trackback

Karya Ilmiah Teknologi 2007
Balitbangda Propinsi Sulawesi Selatan
Oleh
Bahrul ulum Ilham, S.Pd

ABSTRAK

Tujuan penulisan karya tulis adalah untuk mengetahui pemanfaatan MCT (Multipurpose Community Telecenters) dalam pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia dan Propinsi Sulawesi Selatan pada khususnya. Metode penulisan dilakukan dengan menggunakan metode studi kepustakaan (library research. Data diperoleh dari beberapa literatur seperti jurnal, majalah, surat kabar, buku-buku, internet serta berbagai referensi yang relevan.

Satu model baru yang menjanjikan harapan dalam perluasan layanan kepada masyarakat sampai ke pedesaan adalah Telecenter atau balai informasi masyarakat (BIM). Model yang semakin populer ini merupakan fasilitas yang dapat diakses oleh masyarakat umum, yang menawarkan serangkaian layanan dan pelatihan jasa-jasa teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di tengah-tengah masyarakat.

Telecenter mampu menciptakan “keterhubungan” (interconnectedness) antar perorangan dan antar kelompok masyarakat (komunitas), sehingga memungkinkan terlaksananya konsep kerjasama meskipun para pesertanya terrsebar di mana saja (secara geografik), dalam semua kegiatan dan usaha manusia, termasuk belajar, bekerja dan bermain

MCT (Multipurpose Community Telecenters) merupakan tempat dimana masyarakat bisa memperoleh dukungan teknologi komunikasi dan informasi (ICT-Information and Communication Technology) untuk mengakses berbagai layanan secara aman. MCT ini diharapkan akan dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat, antara lain: e-government (e-public service, layanan publik), e-learning (distance/open learning – layanan pendidikan), e-commerce (SME-center, untuk jaringan bisnis UKM), dan lain sebagainya.
Perusahaan Mikro dan UKM merupakan konstituensi sisi permintaan dalam pengembangan Telecenter. Mereka adalah pemakai potensial untuk layanan Telecenter bernilai tambah seperti pelatihan perangkat lunak bisnis, pemasaran, promosi, dan konsultasi, demiian juga aktifitas pemberdayaan masyarakat

Kata kunci : Usaha Kecil dan Menengah, telecenters, informasi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengalaman saat krisis ekonomi melanda Indonesia telah membuktikan bahwa kegiatan ekonomi rakyat kecil dalam bentuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan bagian terbesar dalam kegiatan ekonomi masyarakat yang mampu bertahan menghadapi badai krisis. Usaha kecil dan menengah (UKM) tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi jumlah usaha (establishment) maupun dari segi penciptaan lapangan kerja.

Potensi UKM di Indonesia dapat dilihat dari survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistk (BPS) dan Kantor Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menegkop & UKM)  terhadap usaha-usaha kecil termasuk usaha-usaha rumah tangga atau mikro. Hasil survei menunjukkan usaha mikro pada tahun 2000 dengan jumlah total penjualan (turn over) setahun yang kurang dari Rp. 1 milyar) meliputi 99,9 persen dari total usaha-usaha yang bergerak di Indonesia. Sedangkan usaha-usaha menengah berupa usaha-usaha dengan total penjualan tahunan yang berkisar antara Rp. 1 Milyar dan Rp. 50 Milyar meliputi hanya 0,14 persen dari jumlah total usaha. (BPS, 2000). Dengan demikian, potensi UKM sebagai keseluruhan meliputi 99,9 persen dari jumlah total usaha yang bergerak di Indonesia.

Perkembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM) menunjukkan perkembangan pesat dari tahun ke tahun. Dalam konteks usaha ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2006 jumlah usaha mikro dan kecil di luar sektor pertanian telah mencapai 19,3 juta kegiatan atau sebesar 77,7 persen, usaha menengah mencapai 5,2 juta atau 21 persen, dan usaha besar 500.000 atau 2 persen. Sementara jika dikaitkan dengan struktur ekspor Indonesia tahun 2005, potensi UKM justru baru mencapai 14,76 persen, jauh lebih kecil dibandingkan dengan ekspor usaha besar yang mencapai 85,24 persen.

Data terbaru tentang potensi UMKM menunjukkan keberadaannya sebesar 48,9 juta unit usaha pada tahun 2006 dengan kegiatan usaha yang mencakup hampir semua lapangan usaha, serta tersebar di seluruh tanah air. Oleh karena itu, pemberdayaan UMKM menjadi semakin strategis untuk mendukung peningkatan produktivitas, penyediaan lapangan kerja yang lebih luas, dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat miskin.

Kegiatan UMKM pada tahun 2006 menyerap hampir 96,2 persen dari seluruh pekerja yang berjumlah 85,4 juta pekerja. Kontribusi UMKM terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun yang sama adalah sebesar 53,3 persen dengan laju pertumbuhan nilai tambah sebesar 5,4 persen. Sementara itu, jumlah koperasi pada tahun 2006 telah mencapai 140 ribu unit yang tersebar di seluruh propinsi, dengan anggota sebanyak 28,6 juta orang.

Namun disisi lain, berbagai persoalan masih menyelimuti UKM-UKM di tanah air. Menurut survei yang dilakukan oleh BPS menemukan sejumlah kendala yang dihadapi usaha kecil dalam mengembangkan usahanya secara ringkas, selain program adalah pemasaran, pengadaan bahan baku, teknis produksi, dan persaingan pasar. Demikian juga potensi ekspor kelompok UKM masih sangat jauh tertinggal dibandingkan usaha kelompok besar, yaitu hanya sebesar 14,76 persen berbanding 83,24 persen.  (Media Indonesia, 2006).

Kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi juga disumbangkan oleh usaha ekonomi masyarakat berskala kecil dan menengah, baik formal maupun informal di Propinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan sensus ekonomi Propinsi Sulawesi Selatan tahun 1996 tentang besarnya omset usaha, maka diperoleh data bahwa jumlah pelaku usaha kecil, menengah dan besar di Sulawesi Selatan mencapai 1.570.145 unit usaha, termasuk di unit usaha yang bekerja di sektor pertanian berjumlah 980.072 unit usaha (BPS Sulawesi Selatan, 1996).

Berdasarkan data tahun 2000, pengusaha kecil dan menengah di Suawesi Selatan berjumlah 1.594.602 yang bergerak di 9 (sembilan) sektor ekonomi dengan dominasi sektor pertanian dengan jumlah 992.894 atau sebesar 62,26 persen. Sektor perdagangan dengan jumlah 266.566 atau sebesar 16,38 persen dan sektor lainnya sekitar 20 persen. (Balitbangda Sulsel, 2003).

Melihat besarnya potensi dan kontribusi UKM  terhadap ekonomi nasional maupun daerah maka pemberdayaan UKM menjadi agenda yang sangat penting. Di masa mendatang, pemberdayaan usaha kecil dan menengah perlu dilakukan secara lebih serius. Dalam hal inilah pentingnya mencari berbagai pendekatan yang paling efektif untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat pembukaan pameran produk unggulan koperasi dan UKM di Sme’sco Promotion Center (SPC) Jakarta, 10 Juli 2006 lalu menekankan pentingnya orientasi pengembangan UKM ke depan harus lebih menuju kemampuan bersaing dalam percaturan global. Menurut Presiden SBY, banyak produk UKM yang memiliki kualitas dan harga yang dapat bersaing di pasaran, namun masih terdapat kesenjangan antara potensi pasar dengan kemampuan kelompok UKM dalam mempromosikan produk-produk mereka. (Media Indonesia, Juli 2006).

Sementara itu, komitmen bangsa Indonesia dalam menyepakati era globalisasi AFTA maupun WTO menuntut penyikapan sedini mungkin oleh semua pihak, termasuk pelaku UKM yang memiliki potensi-potensi yang belum tergali secara optimal. Potensi UKM yang belum berkembang secara optimal ini tidak dapat menjamin apakah akan mampu bertahan (survive) di era pasar bebas. UKM harus senantiasa didorong dan mengatasi berbagai kelemahannya agar mampu bersaing dan tidak jatuh tertindas oleh kompetitor dari negara luar.

Menyikapi hal di atas, salah satu kesepakatan deklarasi G-15 di Indonesia, adalah bahwa UKM perlu difasilitasi dalam liberalisasi perdagangan dan investasi untuk segera beradaptasi terhadap kecenderungan globalisasi serta perlu difasilitasi dengan optimalisasi sistem informasi dan aplikasi e-business sehingga akan mempunyai daya saing global.

Era globalisasi dan kemajuan  teknologi informasi yang berkembang sangat cepat telah memaksa kita mempersiapkan diri mau tidak mau untuk masuk dan menjadi bagian aktif dari masyarakat ekonomi-informasi. Internet economy’ mendorong globalisasi dan “networking” dunia usaha.

Kondisi di atas menjadikan pasar dan perdagangan makin terbuka tanpa batas, serta peluang yang setara bagi pelaku-pelaku bisnis tidak mengenal apakah berasal dari pengusaha besar, menengah, atau pun kecil, siapa yang cepat akan menang atau dikenal dengan “time-to-market” atau “economic of time”. (Muhammad Nadzif, 2001).

Teknologi Informasi (IT) adalah revolusi abad 20, sehingga jaman global informasi bergerak sangat cepat dan menjadi pelaku bisnis dalam memenangkan persaingan. Internet adalah sekian banyak IT yang membuka peluang bagi UKM untuk menebar pemasaran dan menumbuhkan jaringan small and medium enterprise atau UKM di nusantara dan seluruh belahan dunia.

Di era ekonomi digital, tantangan  tidak hanya datang dari para pesaing saja, melainkan dari segala penjuru. Harus disadari bahwa saat ini arus informasi telah beralih kepada digital dan networked, tidak ada lagi dinding-dinding yang membatasi ruang gerak kita dan sebagai dampak yang lebih luas lagi adalah tidak ada satupun bisnis yang aman. Berbagai produk baru akan tercipta dan kompetsi baru akan muncul dari tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan  akan menjadi pesaing. (BisnisMan News, 2006).

Berdasarkan uraian di atas, pengusaha UKM dituntut menjadi bagian dari komunitas global melalui pemanfaatan teknologi informasi. Bila hal ini tidak dilakukan, pelaku UKM di tanah air akan tertinggal jauh dan akan dilibas arus global.

Pengembangan UKM berbasis teknologi informasi (IT) menjadi sangat penting bila melihat kondisi cakupan geografis Indonesia yang begitu luas dengan sumber daya yang tersebar, maka tidak ada cara lain dalam pengemabangan UKM diperlukan suatu jaringan yang terintegrasi dan terpadu melalui teknolgi informasi dan komunikasi yang tepat yang akan membentuk jaringan pusat pusat komoditi unggulan, diantaranya adalah melalui penerapan MCT (Multipurpose Community Telecenters).

Pendirian sejumlah Telecenter merupakan salah satu prakarsa/gagasan yang paling penting. Pada tahun 1990an, organisasi-organisasi donor internasional dan banyak pemerintah meluncurkan proyek-proyek Telecenter di seantero Afrika, Asia dan Amerika Selatan.

Dengan demikian, penulis mengajukan judul karya ilmiah teknologi,  yaitu sebagai berikut  :

PENERAPAN MCT (MULTIPURPOSE COMMUNITY TELECENTERS SEBAGAI ALTERNATIF PEMBERDAYAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM)”

  1. B. Rumusan Masalah.

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam karya ilmiah teknologi ini adalah :

Bagaimanakah penerapan MCT (Multipurpose Community Telecenters) dalam mengembangkan bisnis Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia dan Propinsi Sulawesi Selatan pada khususnya ?

C. Tujuan Penulisan.

Adapun tujuan penulisan karya ilmiah teknologi ini adalah   :

Untuk mengetahui pemanfaatan MCT (Multipurpose Community Telecenters) dalam pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia dan Propinsi Sulawesi Selatan pada khususnya.

D. Manfaat Penulisan.

  1. Diharapkan dapat menjadi informasi dalam penerapan teknologi informasi, khsusnya penerapan IT terhadap pengembangan UKM di Propinsi Sulawesi Selatan.
  2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah, instansi terkait dan seluruh pelaku UKM dalam mengembangkan bisnis UKMN di era ekonomi digital sekarang ini.
  3. Sebagai bahan informasi untuk penelitian maupun penulisan sejenis di masa yang akan datang.

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian dan Karakter Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Pengertian dan karakter usaha kecil dan menengah di Indonesia masih beragam dan tergantung dari konsep yang digunakan. Usaha Kecil masih sering identik dengan pengusaha golongan ekonomi lemah sehingga sampai saat ini masih banyak perbedaan pendapat tentang definisi Usaha kecil.

Kriteria usaha kecil di Indonesia berbeda–beda tergantung pada fokus  permasalahan yang dituju dan di instansi yang berkaitan dengan sektor ini. Badan pusat Statistik (BPS) secara konsisten sejak tahun 1974 menggunakan pedoman jumlah tenaga kerja dalam mendefinisikan usaha kecil bilamana suatu usaha menggunakan jumlah tenaga kerja antara 5 dan 19 orang dikategorikan sebagai Usaha Kecil.

Departemen perindustrian, pada tahun 1990, mengemukakan kriteria usaha kecil dari sisi finensial, yaitu usaha yang nilai asetnya (tidak termasuk rumah dan tanah), dibawah Rp. 600.000.000. sementara menurut Kamar dagang dan industri (KADIN), sektor usaha yang tergolong kecil kalau memiliki modal aktif di bahwa Rp. 150.000.000. dengan turn over di bawah Rp. 600.000.000 per tahun, kecuali untuk sektor kontruksi dengan batasan memiliki modal aktif dibawah Rp. 250.000.000. dengan turn over dibawah Rp. 1 milyar per tahun.

Pada tahun 1990 Bank Indonesia menentukan kriteria usaha kecil dari sisi finansial, yaitu usaha yang asetnya (tidak termsuk tanah dan bangunan), dibawah Rp. 600.000.000.

Dengan adanya Undang-undang tentang Usaha Kecil, maka paling tidak ada acuan formal tentang pengertian usaha kecil. Di dalam UU No.9 /1999 tentang Usaha Kecil disebutkan bahwa usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih/hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur didalam Undang-undang ini. Untuk lebih jelas dengan menggunakan angka nilai asset neto, dijelaskan dalam UU No.9 /1999 ditetapkan bahwa Usaha kecil adalah suatu unit usaha yang memiliki nilai asset neto (tidak termasuk tanah danbangunan) yang tidak melebihi Rp. 200 juta, atau penjualan per tahun tidak lebih besar dari 1 miliar.

Sedangkan menurut Inpres No. 10/1999 tersebut, Usaha Menengah adalah suatu unit dengan nilai asset neto (di luar tanah dan gedung) antara Rp 200 juta hingga Rp 10 miliar.

Definisi yang paling baru dan mengakomodasi semua aspek atau kriteria yang dipakai oleh berbagai institusi (Hajati, 2003:46), yaitu:

1.   Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2.   Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1 milyar.

3.   Milik Warga Negara Indonesia.

4.   Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahan yang dimiliki, dikuasai ataupun berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Besar.

5.   Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum atau usaha yang berbadan hukum termasuk koperasi.

Menurut Hudha Sakti (2006), komunitas usaha kecil dan menengah (UKM) bagian dari sistem ekonomi Indonesia yang sangat strategis dalam mendorong dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi ditinjau dari berbagai aspek yang dimilikinya, yaitu :

1)      Kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang relatif rendah diperkirakan daya serap pada sektor UMKM mencapai 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4 % dari total angkatan kerja yang bekerja.

2)      Aktivitas bisnis UMKM mengisi semua sektor ekonomi diantaranya pertanian, perdagangan, jasa, industri dan sebagainya.

3)      Kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan yakni mencapai sedikitnya 56,72 % dari total PDB

4)      Proses produksi lebih banyak memanfaatkan bahan baku lokal, dan

5)      Agregasi atau jaringan UMKM memperkuat perekonomian lokal maupun nasional.

Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah, termasuk di Indonesia. Usaha Kecil & Menengah (UKM) ini juga sangat berperan dalam penyerapan tenaga kerja dan UKM juga sangat produktif dalam menghasilkan tenaga kerja baru & juga dapat menambah jumlah unit usaha baru yang mendukung pendapatan rumah tangga dari UKM tersebut. Usaha Kecil & Menengah (UKM) juga memiliki fleksibilitas usaha yang bagus jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas besar. Dulu UKM belumlah mendapatkan perhatian yang penuh dari pemerintah, tapi sekarang pemerintah sedang menggalakkan program-program untuk peningkatan usaha kecil & menengah (UKM) yang ada di Indonesia serta memberikan perhatian yang khusus kepada UKM-UKM tersebut.

B. Pengertian dan Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi

ICT (Information and Communication Technology) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi yang sering disingkat menjadi TIK saat ini telah berkembang dengan amat pesat dan telah merambah keberbagai macam disiplin ilmu. ICT seolah-olah sudah merupakan keharusan bagi setiap aspek kehidupan baik itu perdagangan, pendidikan, birokrasi, politik, perhubungan, dan lain-lain.

Menurut Turban, Informasi berarti data yang sudah diolah dan terstruktur sehingga berarti bagi yang membutuhkannya sedangkan Komunikasi adalah sebuah proses dari pengiriman dan penerimaan symbol yang di dalamnya terkandung pesan-pesan. Jadi bisa kita artikan bahwa TIK adalah teknologi yang berhubungan atau berkaitan dengan pengolahan data menjadi informasi beserta cara memindahkan informasinya dari satu tempat ketempat yang lain.

Berdasarkan Buku Pedoman Khusus Mata Pelajaran untuk Kurikulum Berbasis Kompetensi Standar Kompetensi Sekolah dasar dan Madrasah Ibtiyah disebutkan bahwa Teknologi Infoprmasi adalah segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi mempunyai pengertian segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke yang lainnya. Sehingga disebutkan ICT atau TIK adalah segala aspek yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media menggunakan teknologi tertentu. (Solthan, 2006)

Menurut Harjanto Prabowo, Chief Information Officer, Universitas Bina Nusantara ICT merupakan suatu bentuk paduan antara komputer, dan komunikasi. Dulu, komputer, dan komunikasi merupakan dua hal yang terpisah. Namun, saat ini teknologi memungkinkan penyatuan kedua hal tersebut. Salah satunya ditandai dengan kehadiran internet, dan komunikasi mobile (bergerak). Dari situlah lahir istilah TI atau ICT.

Sementara  Ir Jatmiko, MBA, MM, Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU). Menurutnya, ICT merupakan suatu perangkat teknologi yang diciptakan untuk mengelaborasi manfaat aplikasi komputer, komunikasi, dan informasi, menjadi suatu sistem yang terintegrasi. Dalam dunia pendidikan, pemanfaatan ICT akan mampu mendorong pengembangan pengetahuan, dan pemahaman mahasiswa, maupun dosen, secara lebih baik, dan objektif

Perkembangan teknologi informasi atau Information Technology (IT) yang begitu cepat telah memberikan  pengaruh di berbagai bidang. Hampir semua aktivitas global saat ini sangat bergantung pada peran teknologi informasi. Menurut Tung (1996 : 28) penggunanaan internet tumbuh secara exponen dan menjadi sedemikian banyaknya di dunia diperkirakan tahun 2010 terdapat satu milyar penggunana teknologi informasi di seluruh dunia. Perkembangan ini akan menciptakan sebuah tatanan dunia baru yang berbeda dari abad-abad sebelumnya.

Teknologi informasi memegang peranan yang sangat penting dalam era globalisasi. Teknologi informasi telah memberikan berbagai kemudahan kepada manusia moderen dalam melakukan aktivitas sehari-harinya. Menurut Wahid (2000 : 2) saat ini telah ada teknologi teleworking  yang memungkinkan menyelesaikan pekerjaan di luar kantor. Selain itu juga telah dikembangkan e-commerce yang memberikan kemudahan dalam bertransaksi jual beli  tanpa harus ke toko. Teknologi lain adalah teleconference jarak jauh yang dapat melakukan pembicaraan langsung (live video) melintasi negara atau ke seluruh dunia. (Elektro, 1994:17)

Negara-negara berkembang khususnya Indonesia akan menghadapi cyber era dan globalisasi. Setiap aktivitas antar individu, masyarakat bahkan antar negara sangat ditentukan oleh teknologi informasi yang mereka gunakan. Bangsa yang menguasai dan mampu mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi akan memiliki kekuatan yang cukup besar dalam menentukan kebijakan dunia. Namun, sangat disayangkan bangsa ini menghadapi hambatan dalam pemanfataan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Jika hal ini terus berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan suatu saat Indonesia akan menjadi penonton di negeri sendiri. Bangsa-bangsa yang menguasai teknologi dengan mudah untuk mengeksplorasi dan mengexploitasi SDM dan SDA bangsa ini.

Pada abad ke 21, komputer menjadi suatu media yang sangat konvensional di dunia, terlebih dengan teknologi lain yang telah ditanamkan di dalamnya yaitu jaringan Internet. Jaringan Internet adalah jaringan komputer yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia sehingga informasi, berbagai jenis dan dalam berbagai bentuk dapat dikomunikasikan antar belahan dunia secara instan dan global (Encarta, 2005).

Teknologi Informasi sebagai produk dari modernitas telah mengalami lompatan yang luar biasa dalam perkembangannya. Di penghujung abad ke 20 telah ditemukan beberapa karya di bidang teknologi informasi yang terkenal, diantaranya internet. Internet ini merupakan suatu media teknologi informasi berbasis virtual yang sering disebut dengan teknologi informasi dunia maya.

Menurut data IDC (Internet Indo Data Centra Indonesia), ada sekitar 196 juta pengguna Internet di seluruh dunia sampai akhir tahun 1999, dan menjadi 502 juta pengguna pada tahun 2003. Kemudian kegiatan berinternet akan bertambah dua kali lipat setiap 100 hari, dan diperkirakan pada tahun 2005 sebanyak 1 milliar penduduk dunia akan tergabung dan terhubung satu sama lian melalui jaringan Internet.

Gambaran peningkatan jumlah pelanggan dan pengguna internet di Indonesia dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel Peningkatan Jumlah Pelanggan dan

Pengguna Internet di Indonesia

TAHUN

PELANGGAN PENGGUNA
1996 31000 110000
1997 75000 384000
1998 134000 512000
1999 256000 1000000
2000 760000 1900000
2001 1680000 4200000
2002 667.002 4.500.000
2003 865.706 8.080.534
2004 1.087.428 11.226.143
2005 1.500.000 16.000.000

(Sumber : http://www.apjii.or.id)

Perkembangan penggunaan Internet di Indonesia tidak pula kalah mengesankannya dengan ramalan IDC tersebut. Angka statistik yang disajikan di atas cukup mengejutkan mengingat secara keseluruhan internet relatif baru dikenal oleh masyarakat Indonesia, bahkan pada tahun 1996 dimana masyarakat Indonesia umumnya baru saja mengenal internet, kurang dari sepersepuluh jumlah pengguna massa sekarang, dan frekuensi pemakaiannya pun cenderung rendah. Namun internet sebagai suatu ‘variabel’ di Indonesia telah mengalami perkembangan yang signifikan.

  1. C. Perkembangan Teknologi Informasi dan Masa Depan UKM

Seiring pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membawa dampak di bidang perekonomian. Era ekonomi yang dewasa ini mulai dihadapi sering disebut era “ekonomi modern atau ekonomi baru/EB (the new economy/NE).” Ekonomi Baru sebenarnya menyangkut keseluruhan industri (dalam arti luas) yang bersaing dalam “tatanan” dan “cara” baru. EB bukan hanya menyangkut “teknologi tinggi,” tetapi lebih pada berinovasi dalam melakukan bisnis, terkait dengan produk (barang/jasa), “sektor,” dan sebagainya. Aktivitas produktif dalam EB menghadapi isu dan karakteristik yang hampir serupa, yaitu cepat, global, berjaringan, semakin dipengaruhi/ditentukan oleh “pengetahuan”, semakin sarat teknologi/inovasi.

Perbedaan EB dengan ekonomi “lama” (sebelumnya) pada dasarnya lebih pada “paradigma dalam melaksanakan/ mengelola dan mengembangkan aktivitas ekonomi. EB sangat sarat dengan dinamika perubahan yang cepat, aktivitas yang seolah tanpa batas (borderless), dan jaringan yang menjadi pola hubungan keseharian yang menentukan bagaimana proses nilai tambah dilakukan, serta bagaimana keterkaitan dan daya saing dibangun dan dipertahankan. Terlebih penting lagi sebenarnya adalah bahwa pengetahuan (knowledge) dan inovasi dianggap sebagai pendorong utama (the driving force) bagi EB.

Dalam kemajuan teknologi dan restrukturisasi perekonomian dunia pada  dewasa ini dan kecenderungannya di masa yang akan datang, yang telah  mengintegrasikan bagian-bagian dunia ini menjadi suatu ekonomi global maka syarat ketahanan (survival) bagi wilayah adalah harus mempunyai akses dan cukup kompetitif dalam sistem tersebut. Artinya wilayah harus mampu menempatkan diri dalam jaringan (networking) ekonomi nasional dan global. Lebih tegas lagi maknanya adalah local economic development harus dijadikan sebagai wahana untuk melakukan integrasi jaringan (networking) ini.

Pengertian integrasi jaringan tidak saja terhadap ekonomi nasional maupun global, namun juga secara internal yaitu jaringan  kelembagaan sosial ekonomi secara lokal dan regional. Pada kaitan ini integrasi jaringan ditujukan pada identifikasi dan penciptaan kesempatan-kesempatan bisnis secara inovatif. Jadi yang menjadi sasaran adalah penciptaan suatu kewiraswastaan secara kolektif. (Tommy Firman, 2005)

Ketua komite ekonomi APEC, Mitsuru Takeuchi dalam Sussongko (2005) mengatakan, tatanan ekonomi baru dunia sangat terkait dengan perkembangan usaha kecil dan menengah, dan hal ini tidak dapat dilepaskan dari basis teknologi informasi. Ia mengatakan bahwa dalam perkembangan teknologi yang sangat cepat sekarang ini justru perusahaan skala kecil dan menengah yang mampu dengan cepat menyesuaikan diri.

Ketua Umum Forum Nasional UKM, Sofyan Tan menilai UKM harus melihat manfaat internet untuk akses pasar secara mudah dan efisien seiring era globasasi yang mau atau tidak mau pasti akan dihadapi. Kondisi inu menuntut UKM untuk memilih yang efektif dan kena sasaran. Trend sekarang yang terjadi adalah adanya trading house yang selalu untung besar. Dengan adanya internet, pelaku UKM bisa langsung berkomunikasi dengan buyers-nya. Sehingga mereka bisa memperoleh untung yang lebih besar.

Dalam pemberdayaan dan pengembangan UKM maka salah satu hambatan yang dihadapi adalah keterbatasan akses pasar. Di lain pihak kemampuan melakukan promosi sangat minim karena ketiadaan biaya. Mengatasi permasalahan tersebut maka kehadiran teknologi informasi menjadi jawaban atas kendala tersebut.

Namun disisi lain kita diperhadapkan pada masalah lainnya yautu kondisi masyarakat belum melek komputer, termasuk dalam hal kepemilikan komputer yang masih rendah. Berdasarkan data pada 2001 kepemilikan komputer di Indonesia cuma 11 per 1000 penduduk dan merupakan yang terendah di ASEAN.

Dengan perkembangan masyarakat virtual yang demikian besar saat ini, banyak orang yang berpartisipasi dalam berbagai interest group online – memperlihatkan pergeseran pardigma dari kekuatan ekonomi yang bertumpu pada pembuat / manufacturer ke kekuatan pasar. Paling tidak demikian yang dilihat oleh John Hagel dan Arthur Armstrong, sepasang analis dari McKinsey http://www.mckinsey.com/ sebuah perusahaan konsultan manajemen internasional.

Masyarakat virtual telah memperlihatkan effek-nya. Situs investment seperti Motley Fool http://www.fool.com/ memungkinkan anggota untuk bertukar pengalaman tanpa melalui broker atau perantara. Parents Place melalui situs http://www.parentsplace.com/ merupakan tempat pertemuan para orang tua yang akhirnya memberikan kesempatan pada vendor-vendor kecil untuk mencapai pelanggan potensial mereka untuk produk yang sangat spesifik seperti makanan bayi dan shampo.

Masyarakat virtual akan menggoyang kehebatan divisi marketing dan penjualan di perusahaan-perusahaan besar. Justru perusahaan-perusahaan kecil dengan produk yang lebih baik dan customer service yang baik akan dapat menggunakan masyarakat virtual ini untuk mengalahkan perusahaan besar – sesuatu yang cukup sulit dimengerti di dunia nyata.

Dalam bukunya Net Gain: Expanding Markets Through Virtual Communities, yang dipublikasikan oleh Harvard Business School Press, Hagel dan Armstrong berargumen bahwa daripada melawan trend yang ada, perusahaan yang pandai akan membantu terbentuknya virtual community ini dan menggunakannya untuk mencapai pelanggannya.

D. Pengertian Multipurpose Community Telecenters (MCT)

Satu model baru yang menjanjikan harapan dalam perluasan layanan kepada masyarakat sampai ke pedesaan adalah Telecenter atau balai informasi masyarakat (BIM). Model yang semakin populer ini merupakan fasilitas yang dapat diakses oleh masyarakat umum, yang menawarkan serangkaian layanan dan pelatihan jasa-jasa teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di tengah-tengah masyarakat.

Telecenter adalah merupakan tempat mengakses informasi, berkomunikasi dan mendapatkan pelayanan sosial dan ekonomi dengan menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan sambungan ke internet. Kegiatan ini telah dideklarasikan di Geneva tahun 2003 bahwa untuk tahun 2015 diharapkan seluruh Desa di Dunia sudah terhubung secara online. (www.jatim.go.id)

Selain itu Telecenter diharapkan merupakan tempat dilaksanakannya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang antara lain berupa pelatihan peningkatan ketrampilan dan pengetahuan serta pelaksanaan kegiatan ekonomi masyarakat secara profesional yang didukung oleh fasilitas telecenter. Pemerintah melalui Bappenas bekerja sama dengan United Nations Development Program (UNDP) akan membangun sekitar 500 pusat jaringan teknologi informasi dan komunikasi (telecenter) di Indonesia hingga 2010. (Suara Karya, 2006)

Telecenter Masyarakat Multiguna (Multi-purpose Community Telecenters/MCT) menyediakan lebih dari sekadar layanan akses sederhana ke ICT yang ditawarkan oleh Telecenter dasar. MCT memiliki teknologi yang lebih tinggi, mempekerjakan staf penuh waktu, fokus pada layanan-layanan khusus, dan melatih beragam pengguna di berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, usaha kecil, dan pemerintahan setempat. (Idris, 2003)

Menurut Kristiono (2003), MCT (Multipurpose Community Telecenters) merupakan tempat dimana masyarakat bisa memperoleh dukungan teknologi komunikasi dan informasi (ICT-Information and Communication Technology) untuk mengakses berbagai layanan secara aman.

MCT ini diharapkan akan dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat, antara lain: e-government (e-public service, layanan publik), e-learning (distance/open learning – layanan pendidikan), e-commerce (SME-center, untuk jaringan bisnis UKM), dan lain sebagainya.

Perusahaan Mikro dan UKM merupakan konstituensi sisi permintaan dalam pengembangan Telecenter. Mereka adalah pemakai potensial untuk layanan Telecenter bernilai tambah seperti pelatihan perangkat lunak bisnis, pemasaran, promosi, dan konsultasi. Dalam hal ini, usaha-usaha kecil di negara-negara seperti Ukraina, Kanada, dan Afrika Selatan telah mulai menggunakan Telecenter untuk rancangan situs web, periklanan, dan pengembangan rencana usaha (lihat studi kasus tentang Afrika Selatan dalam Lampiran Satu).

Di samping itu, banyak produsen, pedagang dan UKM dalam perekonomian transisional yang sedang berkembang berhasrat untuk mencari klien-klien dan pasar-pasar baru untuk barang dan jasa/layanan mereka. Teknologi Informasi dan komunikasi yang disediakan melalui Telecenter sangat menguntungkan dalam proses pencarian ini. Misalnya, Telecenter Los Reyes di Meksiko yang menghubungkan produsen alpukat dengan pasar-pasar baru, dan Telecenter Yogyakarta di Indonesia, yang terletak di kawasan niaga di tengah pertokoan kecil, yang menyediakan layanan pemasaran dan komunikasi untuk para pengusaha.

Inisiatif pengembangan MCT hadir agar bagaimana aktivitas-aktivitas yang berupa simpul-simpul kegiatan ekonomi masyarakat (UKM-usaha kecil dan menengah) yang tersebar itu bisa disambungkan, sehingga membentuk suatu jalinan industri yang bernilai tambah mulai dari bahan mentah, bahan setengah jadi, bahan jadi dan seterusnya produk jadi yang bisa diekspor.

Runtutan kegiatan yang membentuk jalinan rantai nilai (value added chain network) sebaiknya terjadi di dalam negeri, sehingga jalinan nilai tambah itu terjadi dengan jaringan ekonomi ini yang dibantu oleh penerapan teknologi informasi (TI). Jalinan keterhubungan ini biasa juga disebut sebagai Ekonomi Jaringan Domestik atau Domestic Marketplace

Dalam hal pengembangan bisnis UKM, Implementasi MCT diwujudkan dalam bentuk optimalisasi pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dalam pemberdayaan dan pengembangan UKM antara lain melalui jaingan SME-Center, pengadaan web site internet bagi UKM, Komputerisasi UKM, Virtual Office, dan layanan teknologi informasi lainnya.

Selain ditujukan untuk peningkatan nilai ekonomis, MCT juga sekaligus menjadi pusat interaktivitas masyarakat dalam suatu komunitas tertentu, khususnya juga sebagai upaya menjembatani kesenjangan digital (digital divide) yang terjadi. Semakin banyak MCT ini terbangun, maka akan semakin banyak anggota masyarakat yang akan terlibat dan terkait dengan aktivitas dan interaktivitas kegiatan yang dikembangkan di masing-masing MCT.

Dengan gambaran di atas nyatalah bahwa pemberdayaan UKM di masa mendatang sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia UKM dalam menguasai teknologi informasi dan keberadaan fasilitas pendukungnya.


BAB III

METODE PELAKSANAAN

Multipurpose Community Telecenters adalah suatu konsep pembinaan dan pemberdayaan  Industri UKM melalui pemanfaatan teknologi informasi. Konsep ini merupakan bagian dari upaya pembentukan struktur ekonomi nasional melalui struktur industri yang ber-value-chain dalam rangka penciptaaan nilai tambah maksimal dan penjalinan-pasar (market linkage) antar UKM dan UKM dengan usaha besar  baik di pasar lokal, regional, maupun global.

Dalam mengimplementaskan MCT, menurut hemat penulis dapat ditempuh metode pelaksanaan yang dimulai dari perencanaan (planning), pelaksanaan (construction), operasional/pemeliharaan serta manajemen pengelolaan.

A. Survei Potensi-Potensi Usaha Kecil dan Menengah

Implementasi MCT dimulai dengan mendorong dari UKM-UKM yang paling potensial atau yang siap terlebih dahulu. Adapun yang menjadi sasaran adalah para enterpreneur, agen-agen yang bisa melakukan interaksi di pasar yang mampu disuplai. Dengan menjalin komunitas atau UKM yang potensial secara ekonomis, diharapkan hal itu akan menjadi contoh yang menarik bagi siapapun yang akan terlibat dalam pengembangan MCT ini. Selain survei potensi ekonomis, perlu langkah untuk membangun kepedulian dan kesadaran masyarakat akan komunitasnya sebagai daya dorong bagi perkembangan dan keberhasilan program MCT ini.

B. Klasterisasi Industri-Industri UKM

Berbagai persoalan UKM yang terdeteksi, baik dalam operasi maupun pengembangan, UKM bisa menyelesaikannya dengan melakukan networking/jaringan bisnis, partnership, maupun aliansi strategis. Sehingga pendekatan kelompok dianggap lebih mampu memberikan solusi pada persoalan UKM secara mandiri, sesuai dengan kebutuhan, partisipatif dan berdimensi bisnis.

Pendekatan penguatan UKM melalui kelompok, dapat berwujud “klaster industri” yang didefinisikan oleh Porter (2000) sebagai kelompok perusahaan yang saling terhubung, berdekatan secara geografis dengan institusi-institusi yang terkait dalam bidang khusus, terhubung karena kebersamaan dan saling melengkapi.

Memperhatikan definisi di atas, maka syarat sebuah klaster industri/usaha adalah (1) terdapat kelompok usaha/perusahaan yang berbeda kepemilikan dan kegiatan usaha tetapi berdekatan secara geografis, (2) usaha yang berbeda tetapi saling melengkapi/terkait, (3) terintengrasi antara satu pelaku usaha dengan lainnya yang mengarah pada simbiotik mutualisma.

Klaster industri yang ideal akan terdiri berbagai usaha yang terkait secara vertikal dan horisontal, yang terdiri dari pemasok input, produsen/manufacturer, lembaga jasa keuangan, lembaga pelatihan, lembaga penelitian dan pengembangan, trading house, jasa transportasi, eksportir, pemerintah dan berbagai lembaga yang terkait dengan operasi UKM.

C. Sinergi Masyarakat, Investor dan Pemerintah Daerah

Pengembangan MCT bersifat terbuka bagi siapa saja yang memiliki concern dalam pengembangan UKM. Dalam hal penyedia konektifitas,  PT. Telkom dapat menjadi mitra utama karena terkait dengan aksesibilitas dan penetrasi yang luas. Hal yang paling penting adalah menjalin sinergi atau bekerjasama dengan pemerintah daerah, khususnya dalam rangka otonomi daerah.

Pemerintah daerah memiliki power dan juga resource di daerah itu, yang dapat diagregat untuk mendorong kegiatan-kegiatan ekonomis dan pemerintah daerah juga terlibat.

Selain itu harus dijalin pula sinergi dengan investor-investor lainnya. Dalam pengembangan MCT ini yang penting menjadi perhatian adalah tidak hanya aspek aksesibilitas, melainkan juga SDM dan skema pembiaya (micro finance), yang akan sangat banyak membantu secara operasional di lapangan.

Telecenter yang mencoba melayani wilayah berpenduduk kepadatan rendah dan terpencar, dengan beberapa atau tanpa usaha kecil dan menengah (UKM), biasanya tidak langgeng. Dalam konteks ini, Telecenter tak punya pilihan lain kecuali menerima bantuan dalam bentuk dana (subsidi) layanan universal agar dapat terus bertahan sampai lembaga-lembaga kemasyarakatan lain berdiri untuk mendukungnya.

D. Pengembangan MCT

Telecenter Masyarakat Multiguna (Multi-purpose Community Telecenters/MCT) menyediakan lebih dari sekadar layanan akses sederhana ke ICT yang ditawarkan oleh Telecenter dasar. MCT memiliki teknologi yang lebih tinggi, mempekerjakan staf penuh waktu, fokus pada layanan-layanan khusus, dan melatih beragam pengguna di berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, usaha kecil, dan pemerintahan setempat.

Pengembangan MCT berkaitan erat dengan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi. Untuk Penerapan teknologi komunikasi dan informasi maka UKM didororng melakukan proses komputerisasi. Komputerisasi di bisnis UKM adalah upaya mendayagunakan kemampuan komputer untuk menghitung, mengontrol dan membuat laporan secara terpadu sehingga dapat  memperlancar usaha yang dijalankan UKM. Jadi komputer bukan hanya digunakan sebagai pengganti mesin ketik seperti yang biasa digunakan. Semakin berkembangnya bisnis UKM, semakin komplek permasalahan yang terjadi. Dengan system kontrol manual maka pelaku UKM akan banyak mengalami kesulitan untuk melakukan perhitungan, kontrol bahkan pembuatan laporan.

Langkah selanjutnya adalah pemanfaatan internet melalui pembuatan website sendiri maupun bergabung dengan jasa penyedia website bagi UKM yang telah banyak bermunculan. Website merupakan wadah promosi yang efektif bagi UKM ( Usaha Kecil Menengah ) yang ada di Indonesia. Banyak sekali produk-produk UKM yang ada di Indonesia yang memiliki potensi yang bagus untuk lebih di promosikan dengan menggunakan media online. Selama ini para UKM belumlah maksimal dalam mempromosikan produknya, baik itu melalui media koran, majalah maupun pameran-pameran, yang diadakan baik oleh pemerintah, BUMN maupun swasta.

Salah satu contoh sederhana implementasi teknologi informasi yang akan disediakan oleh MCT adalah melalui sistem informasi untuk usaha kecil dan menengah melalui UKMoffice. UKM office adalah produk sistem informasi yang bersifat generik untuk digunakan oleh setiap unit usaha kecil dan menengah dalam mengatur sistem pengelolaan usahanya ke arah yang lebih efisien, efektif dan ekonomis. UKMoffice menyediakan sarana untuk mencatat dan membuat pelaporan mengenai setiap aktifitas dan transaksi penting, mulai dari pemesanan barang, produksi, pembelian, penjualan, serta pembayarannya.

Dengan menggunakan UKMoffice maka diharapkan administrasi menjadi lebih tertib, informasi terkelola baik, serta perhitungan internal dan pelayanan pelanggan menjadi lebih cepat dan tepat. Adapun modul-modul utama UKMoffice adalah :

  1. Gudang (stok)

Modul ini mengelola kondisi stok yang pergerakannya akan selalu tercatat setiap ada transaksi penjualan, pembelian, mutasi barang maupun produksi

  1. Penjualan

Modul ini mengelola proses transaksi penjulana mulai dari pencatatan barang sampai pembayarannya

  1. Pembelian

Modul ini mengelola proses-proses yang terjadi ketika ada transaksi pembelian, mulai dari informasi kontrol stok kritis, pencatatan barang yang dibeli, sampai dengan pembayarannya

  1. Produksi

Modul ini diperuntukkan khusus untuk usaha yang ada proses produksi barang di dalamnya. Modul ini mengelola proses prduksi yang dimulai dari nformasi mengenai order produksi  sehingga dapat diketahui jumlah barang yang perlu dibuat, serta kebutuhan bahan baku untuk melakukan produksi barang tersebut.

  1. Akuntansi

Modul ini memncakup fasilitas-fasilitas : set up kode akun, transaksi kas, jurnal transaksi dan pelaporan keuangan seperti jurnal/buku besar, account inquiry, income statement, balance sheet dll.

  1. Data pokok (Master data)

Modul ini digunakan untuk pengelolaan data-data pokok yang dibuuthkan dalam proses-proses baik transaksional (penjualan, pembelian dst) maupun informasional (pelaporan). Adapun yang termasuk ke dalam data pokok ini meliputi data barang, data pelanggan, data pemasok, data fixed asset dan data pengguna sistem.

  1. Backup dan Restore

Modul ini digunakan untuk mendukung kelancaran dan kelangsungan proses penggunaan UKMoffice dalam pemrosesan data. Proses back up digunakan untuk menyimpan data aktif yang ada ke media atau tempat lain sebagai cadangan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap data. Sedangkan proses restore digunakan untuk mengambil hasil backup ke dalam data operasional.

Implementasi SME-Center diwujudkan dengan menerapkan jaringan Small Medium Enterprise (SME-Center). Menurut Nadzif (2001), SME Center adalah suatu simpul layanan bagi komunitas UKM yang akan berfungsi sebagai suatu pusat layanan virtual, merupakan suatu jaringan simpul-simpul dan titik tolak transit dari perusahaan lokal menuju kerjasama usaha dengan perusahaan negara-negara regional melalui simpul-simpul (nodes) di negara G-15.

SME Center sebagai “virtual infrastructure” menghubungkan semua “center of excellence” menjadi “Network of excellence”. Sebagai tempat transit, pusat ini akan mengakomodasikan dan mengadakan adaptasi terhadap berbagai sistem yang berbeda usaha dan liberalisasi investasidan teknologi. CD SMEs akan menjadi sistem terbuka dengan provider lainnya.

Telecenter merupakan istilah singkat dari “Pusat Pemberdayaan Masyarakat Multifungsi Berbasis Telecenter” (Multipurpose Community Development Telecenter/MCDT). Di telecenter, masyarakat dapat mengakses informasi dan berkomunikasi dengan sarana yang tersedia, antara lain komputer dan sambungan internet. Setiap telecenter akan dilengkapi dengan sejumlah komputer (5 sampai 7 PC), koneksi ke internet, satu buah printer, satu buah scanner (pemindai), LCD proyektor, kamera dijital, webcam, DVD player, buku-buku, televisi, tape multimedia, faksimili, digital recorder (alat perekam dijital), program-program aplikasi, VCD/DVD pendidikan, buku-buku, dan sebagainya. Dalam operasional suatu MCT maka diperlukan biaya-biaya operasional mencakup:

  • Kepegawaian;
  • Sewa kantor;
  • Pengembalian pinjaman;
  • Asuransi dan keamanan;
  • Biaya akses ke penyedia telekom nasional dan ISP;
  • Pemutakhiran dan pemeliharaan;
  • Persediaan kantor;
  • UtilitasPemasaran;
  • Penelitian dan pengembangan;
  • Pelatihan karyawan.

Sementara pendapatan operasional MCT mencakup:

  • Hibah dari pemerintah dan kontrak-kontrak layanan;
  • Akses telepon dan Internet;
  • Kursus pelatihan;
  • Layanan pendukung usaha;
  • Akun-akun (accounts for) voice dan e-mail; dan
  • Layanan fotokopi dan faks.
  • Layanan untuk jenis jasa lainnya

Perolehan tergantung pada banyak faktor, termasuk jenis Telecenter yang akan di-deployed, populasi penduduk, tingkat pendapatan penduduk yang dilayani, jumlah UKM di wilayah tersebut dan pengenalan awal ICT, serta tingkat melek huruf.  Perolehan atau peghasilan operasional juga tergantung pada tahap dalam siklus hidup Telecenter.

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Telecenter Sebagai Sarana Akses Universal

Gerakan Telecenter pada mulanya berasal di Eropa dan Amerika Utara pada pertengahan tahun 1980an sebagai sarana pengadaan akses telekomunikasi ke masyarakat pedesaan. Pada akhir tahun 1990an, Telecenter telah menjadi unsur utama dari strategi pembangunan di berbagai negara di Amerika Latin, Asia, dan Afrika.

Telecenter sebagai wahana multiguna untuk pengembangan masyarakat sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Tempat-tempat sejenis ini datang dengan beragam nama, di antara nama-nama yang mungkin lebih dikenal adalah Balai Informasi Masyarakat (BIM), Warung Informasi Teknologi (Warintek), atau Community Access Point (CAP), yang pada intinya memiliki fasilitas dan fungsi yang hampir sama, yaitu menyediakan layanan jasa komputer dan koneksi ke internet serta layanan-layanan dan program-program kegiatan pengembangan masyarakat

Istilah “Telecenter” secara garis besar menggambarkan berbagai model organisasi yang menyediakan layanan komunikasi dan sumber informasi yang dapat diakses oleh publik kepada penduduk yang tidak terlayani dan berpendapatan rendah di wilayah perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan.

Layanan-layanan dan teknologi Telecenter dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tertentu yang dilayaninya. Meskipun Telecenter bervariasi dalam hal layanan dan teknologi yang ditawarkannya, sebagian besar menyediakan akses kepada telepon, SMS, faks, komputer, dan Internet (termasuk e-mail dan Jaringan Jembar Jagad atau Web Dunia/www).

Telecenter juga dapat menawarkan layanan khusus dan pelatihan. Tergantung pada mandat dan sumber dana yang dimilikinya, sebuah Telecenter dapat dimiliki secara publik atau pribadi, atau gabungan dari keduanya. Kelangsungan secara finansial biasanya juga merupakan tujuan yang eksplisit atau formil suatu Telecenter, sekalipun ini tidak selalu ditemukan dalam praktek sesungguhnya.

Adapun tujuan umum pendirian telecenter adalah :

  1. Memberi keuntungan kepada masyarakat yang mereka layani dengan cara memberikan akses kepada fasilitas telematika, sehingga mereka dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan dengan lebih baik.
  2. Menjadi mandiri dengan manajemen yang sehat dan pelatihan pelanggan dan dengan menyediakan layanan untuk umum berbayar yang sesuai. Kendatipun demikian, berdirinya Telecenter tidak selalu merupakan tujuan mutlak satu-satunya – melainkan, Telecenter dapat berfungsi sebagai katalisator untuk pembangunan ekonomi dan sosial yang positif. Jika pembangunan terjadi, maka pada hakekatnya telcentre dapat dengan sendirinya tidak diperlukan lagi.

Denga demikian pada dasarnya, telecenter atau dalam bahasa Indonesia diistilahkan balai informasi masyarakat menggunakan kemampuan infokom atau ICT, yaitu komunikasi instant jarak jauh melalui berbagai cara, baik dengan perantaraan suara, tulisan, data,  (bahkan kendali elektronik) serta kombinasi-kombinasinya, dengan jangkauan amat luas sampai seluruh dunia.

Kemampuan ini mampu menciptakan “keterhubungan” (interconnectedness) antar perorangan dan antar kelompok masyarakat (komunitas), sehingga memungkinkan terlaksananya konsep kerjasama meskipun para pesertanya terrsebar di mana saja (secara geografik), dalam semua kegiatan dan usaha manusia, termasuk belajar, bekerja dan bermain.

Melalui kerjasama dicapai hasil lebih dari jumlah hasil perorangan, karena ada nilai tambah berkat kontribusi pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan wawasan masing-masing pesertanya. Konsep kerjasama yang didukung “komunikasi instan” menghasilkan peningkatan-peningkatan dalam pengetahuan, ketrampilan kerja, wawasan, dan selanjutnya meningkatkan lingkup karya yang dapat dilakukan, dan akhirnya meningkatkan taraf hidup masyarakat penggunanya. Dalam beberapa rujukan, komunikasi instant itu disebut merupakan katalisator proses kerjasama itu.

B. Model-Model Pengembangan Telecenter

Dalam buku panduan “Penyelenggarakan Telecenter” oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2003, membagi Telecenter ke dalam tiga jenis atau tingkatan: 1) Telecenter dasar, 2) Telecenter masyarakat multiguna, dan 3) wartel. Adapun penjelasan ketiga model telecenter tersebut adalah :

1. Telecenter Dasar

Tujuan Telecenter dasar sangat terbatas. Ia biasanya ditempatkan secara terpusat di masyarakat marjinal/terpencil dan menawarkan kombinasi layanan termasuk telepon, faks, SMS, penghitungan, Internet dan fotokopi, serta teknologi terkait. Telecenter dasar dapat dimiliki secara pribadi oleh pengusaha atau berdasarkan pada perjanjian waralaba (franchise). Telecenter dasar dapat dijalankan sebagai usaha kecil yang menyediakan akses bayar pakai yang terbatas ke ICT untuk penduduk setempat. Telecenter dasar banyak terdapat di negara-negara seperti Chili (Amerika Latin) dan Afrika Selatan.

2. Telecenter Masyarakat Multiguna (MCT)

Telecenter Masyarakat Multiguna (Multi-purpose Community Telecenters/MCT) menyediakan lebih dari sekadar layanan akses sederhana ke ICT yang ditawarkan oleh Telecenter dasar. MCT memiliki teknologi yang lebih tinggi, mempekerjakan staf penuh waktu, fokus pada layanan-layanan khusus, dan melatih beragam pengguna di berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, usaha kecil, dan pemerintahan setempat.

Di banyak negara berkembang MCT menerima dukungan dari lembaga donor luar negeri atau donor internasional karena memerlukan investasi sosial dan keuangan yang cukup besar. Negara-negara seperti Uganda, Afrika Selatan, Ghana, Benin, dan Paraguay telah menerapkan MCT.

3. Wartel

Walaupun seringkali tidak dianggap sebagai Telecenter, wartel juga dimasukkan ke dalam analisa ini karena wartel juga digunakan untuk memenuhi syarat-syarat akses dan layanan universal, karena wartel memberikan layanan telekomunikasi dasar kepada masyarakat yang kurang terlayani dan wartel juga dapat diperluas untuk mencakup layanan yang seringkali dikaitkan dengan Telecenter.

Wartel merupakan usaha mikro yang menyediakan akses ke layanan telepon untuk digunakan oleh masyarakat. (Karena Wartel merupakan upaya mandiri tanpa subsidi, dengan kata lain tidak dapat mengabaikan keuntungan dalam usaha, maka di Indonesia tebaran Wartel belum benar-benar masuk desa, tetapi mengisi kantong-kantong masyarakat di perkotaan. Beberapa wartel juga telah mulai menawarkan layanan faks dan fotokopi. Biasanya, sebuah wartel dimiliki oleh seorang pengusaha swasta atau dioperasikan sebagai sebuah waralaba kepada penyedia layanan telekomunikasi nasional. Senegal, Afrika Selatan dan India merupakan negara pelopor dalam pembentukan wartel.

Di samping ketiga jenis Telecenter ini, apa yang dikenal sebagai “warung (kafe) maya” berkembang pesat di negara-negara maju dan berkembang. Satu situs web (website) memiliki satu database dari lebih dari 3.000 warung maya di 133 negara.4 Warung-warung maya merupakan usaha komersial dan biasanya terletak di wilayah-wilayah kota besar, dan menyediakan layanan untuk umum berbayar seperti akses komputer dan internet.

Dalam hal model kepemilikan, sejumlah Telecenter didanai dan dikendalikan oleh donor luar, instansi pemerintah, atau lembaga masyarakat nirlaba. Telecenter lain mungkin saja dilandasi oleh model-model kepemilikan setempat, seperti kepemilikan koperasi, waralaba, dan pendekatan-pendekatan usaha swasta lainnya.

Struktur yang ideal berkaitan dengan kelangsungan Telecenter adalah struktur yang memiliki lembaga-lembaga luar seperti donor-donor atau investor sektor swasta yang memberikan masukan seperti pembiayaan awal (seed financing), pelatihan, perangkat keras dan perangkat lunak, serta bantuan teknis, sedangkan masyarakat setempat mempertahankan kepemilikan dana manajemen Telecenter. Kepemilikan lokal berkaitan erat dengan pengoperasian dan manajemen yang penuh komitmen dan responsif sebuah Telecenter. Layanan tidak akan berguna jika perhatian para staf (manajemen) dan pemilik kepentingan tidak diberikan sebagaimana mestinya karena proses pengambilan keputusan dikendalikan dari jauh.

Dalam model kewirausahaan berbasis lokal, misalnya, seorang pemilik biasanya dapat merespon pertanyaan tentang layanan baru dengan cepat, melakukan investasi penting dan juga menentukan harga layanan. Sebaliknya, jika ijin dari pemilik luar diperlukan untuk tindakan demikian, maka akan ada lebih banyak kertas kerja dan selisih waktu yang lebih besar. Dalam hal apa pun, tanggung jawab pengambilan keputusan yang jelas tentang Telecenter merupakan hal yang mutlak. Kalau tidak, maka layanan akan mendapat pengaruh negatif.

Kemitraan publik-swasta juga dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan kelangsungan Telecenter. Aliansi strategi antara sektor swasta (mis. bank-bank, badan-badan swasta, pemasok peralatan, lembaga-lembaga pembiayaan mikro, dan UKM) serta fasilitas sektor publik (donor-donor, pemerintah, kantor pos, rumah sakit, sekolah, dsb) dapat menjamin kemampu-labaan (profitability) Telecenter dan membantu pengembangan Telecenter guna mencapai skala optimalnya.

C. Multipurpose Community Telecenters (MCT) dalam Pemberdayaan UKM

Salah satu kesepakatan deklarasi G-15 di Indonesia, adalah bahwa UKM perlu difasilitasi dalam liberalisasi perdagangan dan investasi untuk segera beradaptasi terhadap kecenderungan globalisasi serta perlu difasilitasi dengan optimalisasi sistem informasi dan aplikasi e-business sehingga akan mempunyai daya saing global.

Mengingat kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh UKM dan luasnya wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia serta tersebarnya sumberdaya UKM dan sumber daya manusia maka salah satu yang perlu mendapat perhatian saat ini adalah layanan yang harus diberikan kepada UKM berupa total solusi yang terintegrasi serta didukung sistem informasi dan komunikasi yang mudah, murah interaktif dan dapat beradaptasi terhadap sistem informasi dan komunikasi perdagangan yang ada di negara lain.

Perusahaan Mikro dan UKM merupakan konstituensi sisi permintaan dalam pengembangan Telecenter. Mereka adalah pemakai potensial untuk layanan Telecenter bernilai tambah seperti pelatihan perangkat lunak bisnis, pemasaran, promosi, dan konsultasi. Dalam hal ini, usaha-usaha kecil di negara-negara seperti Ukraina, Kanada, dan Afrika Selatan telah mulai menggunakan Telecenter untuk rancangan situs web, periklanan, dan pengembangan rencana usaha.

Di samping itu, banyak produsen, pedagang dan UKM dalam perekonomian transisional yang sedang berkembang berhasrat untuk mencari klien-klien dan pasar-pasar baru untuk barang dan jasa/layanan mereka. Teknologi Informasi dan komunikasi yang disediakan melalui Telecenter sangat menguntungkan dalam proses pencarian ini. Misalnya, Telecenter Los Reyes di Meksiko yang menghubungkan produsen alpukat dengan pasar-pasar baru, dan Telecenter Yogyakarta di Indonesia, yang terletak di kawasan niaga di tengah pertokoan kecil, yang menyediakan layanan pemasaran dan komunikasi untuk para pengusaha.

UKM juga memperoleh keuntungan dari dan memberi kontribusi kepada keberhasilan Telecenter bila Telecenter tersebut terletak di dalam atau berdekatan dengan sebuah UKM. Misalnya, salah satu Telecenter yang dikelola oleh USAID Learlink CLC di Benin yang bersebelahan dengan sebuah restoran. Restoran dan Telecenter tersebut saling memperkokoh dan memberi subsidi silang. Para pengusaha wartel di Afrika Selatan seringkali menjual bir, rokok, makanan, dan barang-barang kebutuhan hidup lainnya.

Studi di beberapa negara menunjukkan bahwa para pengusaha prospektif perlu ditumbuhkan, bukan diciptakan. Ada satu bukti yang menyatakan bahwa dimana pengusaha diciptakan secara artifisial dengan tujuan untuk mencapai tujuan, biasanya mereka seringkali mengalami kegagalan. Sebaliknya jika muncul secara alamiah dan dimungkinkan untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan peluang yang senantiasa berubah, mereka biasanya berhasil. Disinilah pentingnya mengembangkan telecenter yang multifungsi namun tetap berbasis di masyarakat setempat.

D. Contoh Model Penerapan MCT untuk Pemberdayaan UKM

Pengembangan MCT bersifat terbuka bagi siapa saja yang memiliki concern dalam pengembangan UKM berbasis pemanfaatan IT. Dengan pendekatan komunitas maka sangat diharapkan aksesibilitas justru bisa menjangkau masyarakat secara lebih luas dan dengan skala biaya dan efisiensi yang bisa dijaga. Pengembangan MCT harus menjadi kegiatan masyarakat itu sendiri.

Dengan demikian, untuk suksesnya penyelenggaraan telecenter bagi kegiatan pemberdayaan masyarakat hendaknya memperhatikan dua hal utama yakni bagaimana telecenter dapat benar-benar membantu dan bermanfaat bagi orang miskin dalam mendapatkan penghasilan. Langkah yang akan diambil adalah memerlukan ide-ide inovatif pemanfaatan telecenter dan kemitraan serta partisipasi masyarakat, pemerintah, kalangan akademisi, LSM dan swasta

Saat ini telah dikembangkan pola komunikasi dalam pengembangan MCT dengan Telkom sebagai mitra bisnis UKM dan UKM juga menjadi mitra bisnis Telkom. Begitu juga dengan pihak-pihak lain yang ikut terlibat dalam pengembangan MCT. Kedepannya diharapan semakin banyak titik-titik yang interconnected dari berbagai pihak yang peduli pada pengembangan UKM dan akan menjadi bagian dari driver pertumbuhan yang akan memberikan manfaat pada banyak orang.

Pemerintah saat ini juga mengembangkan proyek Partnerships for e-Prosperity for the Poor (Pe-PP), yakni sebuah proyek penanggulangan kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (telecenter) di enam propinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua. Di masing-masing lokasi didirikan sebuah Sustainable Multipurpose Community Development (SMCD) Telecenter, yakni tempat mengakses informasi, berkomunikasi dan layanan sosial dan ekonomi dengan sarana internet.

Pada setiap lokasi proyek percontohan telecenter melalui program Partnerships for e-Prosperity for the Poor (Pe-PP), dilengkapi dengan lima unit komputer, satu unit printer, satu scanner, jaringan dan sambungan ke internet. Telecenter juga menyediakan perangkat multimedia seperti televisi dan koleksi buku-buku, VCD, CD Rom, kaset dan lain-lain untuk dimanfaatkan secara penuh oleh masyarakat. Masyarakat yang ingin menikmati telecenter akan didampingi operator (tenaga administrasi teknologi informasi) berpengalaman.

Layanan di telecenter terdapat layanan dasar (email, informasi situs, chatting, mailing list, scanning dan printing). Selain itu, masyarakat juga diberikan pelatihan komputer, internet, bahasa Inggris dan menjadi guru. Diberikan kemudahan dalam pencarian dan penayangan informasi pertanian, pendidikan, kesehatan, perdagangan/usaha dan pariwisata.

Di lokasi telecenter masyarakat juga dapat melakukan promosi acara lokal, juga layanan untuk UKM, layanan pemerintah (pembuatan KTP/SIM, perpajakan, formulir-formulir), perkumpulan (karang taruna, olahraga, bisnis, arisan, kesenian/kerajinan), perpustakaan (buku, kaset, video), koran atau majalah masyarakat.

Sebagai contoh implementasi MCT dalam pemberdayaan UKM adalah telecenter di Desa Muneng, Kecamatan Pilang Kenceng, Kabupaten Madiun dengan nama telecenter Madu Rasa Muneng dan Desa Kertosari, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang dengan nama telecenter Semeru.

Adapun gambaran aktifitas telecenter ini dalam pemberdayaan UKM digambarkan sebagai berkut :

1.  Kegiatan yang bersifat ekonomi bisnis, dalam upaya menunjang kemandirian telecenter :

  1. Mempromosikan produk UKM melalui jaringan internet ( indonetwork)
  2. Membuka toko kecil dan fotocopy, menyediakan berbagai kebutuhan ATK dan membantu memasarkan produknya UKM, khususnya yang berupa produk makanan dan minuman sekitar telecenter.
  3. Membuka layanan kursus dengan biaya terjangkau oleh keluarga miskin,  kursus computer gratis bagi anggota kelompok tani dan perempuan serta simpul atau kader informasi
  4. Menyewakan ruang pertemuan dan beberapa multimedia pendukungnya

2.  Kegiatan non profit/pemberdayaan masyarakat

  1. Membuka kelompok belajar paket C (Pendidikan non formal setara SMU) yang diikuti oleh masyarakat khususnya dari keluarga miskin
  2. Kursus computer gratis bagi anggota kelompok tani dan perempuan serta simpul atau kader informasi khususnya di desa Kertosari.
  3. Menyediakan informasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat melalui papan informasi yang tersebar di beberapa titik strategis disekitar telecenter, dan mendiskusikan informasi tersebut (terutama informasi yang baru bagi masy) diforum pertemuan kelompok, menerbitkan bulletin rutin tiap minggu, yang berisi tentang berbagai topic yang lagi ngetren pada saat itu.
  4. Memfasilitasi pelatihan dan praktek mengembangkan usaha kecil sesuai dengan potensi yang ada di desa Kertosari, dengan cara mendownload info teknologi terapan  dari internet
  5. Mendampingi kelompok-kelompok sosial yang ada di desa Kertosari, antara lain : kelompok laki-laki, perempuan, pemuda dan anak-anak, dengan mendiskusikan berbagai permasalahan yang mereka hadapi yang bisa difasilitasi dengan ICT dan sekaligus mendampingi ketika ada anggota masyarakat yang akan mempraketkan informasi yang diperoleh dari telecenter.
  6. Membangun networking antara kelompok yang ada di desa Kertosari dengan dikelompok lain, termasuk dengan intansi pemerintah ( dinas pertanian, perindustrian).

Rancangan dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan Telecenter dimulai sejak tahap awal dengan konseptualisasi proyek dan terus berlanjut sepanjang Telecenter tersebut masih tetap beroperasi. Lokasi, keterlibatan masyarakat, rancangan fisik, struktur manajemen dan karyawan, serta teknologi-teknologi/layanan-layanan yang diberikan merupakan komponen rancangan dan pelaksanaan.

Mengidentifikasi tujuan-tujuan Telecenter merupakan langkah awal yang sangat menentukan, karena ini akan menjadi pemandu kegiatan-kegiatan rancangan lain. Selama proses in berlangsung, partisipasi masyarakat sangat penting guna menjamin bahwa Telecenter tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Selanjutnya, begitu ia beroperasi, penting untuk diingat bahwa layanan-layanan dan utilitas telah diperkenalkan kepada masyarakat.

Setelah Telecenter beroperasi, pemantauan dan evaluasi yang sistematis juga sangat penting. Pendekatan-pendekatan kearah pemantauan pengembangan Telecenter yang memadukan umpan balik balik dan/atau partisipasi pengguna dalam seluruh tahapan rancangan program dan pelaksanaan sangat menentukan efektivitas dan relevansinya dengan komunitas yang dilayani. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan secara terus menerus, penting bagi kita melacak biaya dan trend teknologi, termasuk teknologi tepat guna, karena Telecenter perlu menumbuhkan dan mengembangkan layanan-layanan yang ditawarkannya kepada klien-klien, terutama layanan ICT.

Satu hal yang seringkali kurang mendapat perhatian di Indonesia adalah dukungan teknik setelah BIM dibuka untuk menjamin kesunambungan operasional. Memang Indonesia belum mencapai tingkat kemampuan manufaktur perlatan ICT dengan lengkap, sehingga unsur-unsur perawatan dan pemeliharaan operasional sering kali kurang mendapat pertimbangan yang cukup dalam perencanaannya.

Evaluasi merupakan komponen lain yang tak kalah pentingnya. Untuk mengukur nada memahami efektivitas Telecenter sebagai suatu badan usaha (entitas) yang berkesinambungan yang memenuhi kebutuhan masyarakat, usaha-usaha serius telah dilakukan untuk mengevaluasi Telecenter— yaitu, apakah Telecenter yang bersangkutan mampu mencapai tujuannya. Kendatipun demikian, karena banyaknya model Telecenter dan banyaknya pemain yang melakukan evaluasi, sangat sulit bagi kita untuk menentukan metodologi evaluasi yang tepat, yang pada gilirannya akan memberikan data yang bermanfaat untuk memperkokoh Telecenter itu.

E. Jaringan SME-Center sebagai Implementasi MCT

Indonesia telah ditunjuk sebagai koordinator dalam pengembangan sme center yang merupakan pusat total solusi bisnis bagi UKM yang akan dikembangkan di klaster-klaster industri UKM di daerah.

Dalam rangka mewujudkan hal di atas maka dibentuk CD-SMEs (Center for Development of Small Medium Enterprises) yang berfungsi memfasilitasi pengembangan kewirausahaan UKM, akses informasi, akses pasar, akses infrastruktur,  serta sebagai  pusat “virtual” dengan memanfaatkan jaringan komunikasi dan informasi yang menjadi jalinan titik singgah/simpul (“node”) dari jalinan bisnis lokal menuju jalinan bisnis internasional melalui simpul-simpul  lain di setiap negara.

Adapun tujuan dari dibentuknya CD-SMEs (Center for Development of Small Medium Enterprises) adalah :

  1. Menggalang “klasterisasi” industri-industri UKM secara dinamis untuk membentuk jaringan industri yang ber-“value added chain” mulai dari bahan mentah, produk setengah jadi sampai dengan produk jadi bernilai tambah;
  2. Membangun “multidimensional networking” antar industri UKM dan instansi yang terkait dengan fasilitasi UKM (Sistem Distribusi, Sistem Pelatihan, Sistem Mutu, Sistem Permodalan, Teknologi Produksi, Perijinan, dan lain lain);
  3. Menyediakan layanan terpadu bagi UKM untuk akses kepada informasi, pasar, standarisasi, perbankan, teknologi dan manajemen melalui simpul pelayanan UKM yang disebut dengan “SME Center”;
  4. Menjalin “market-matching” antara UKM dengan UKM, UKM dengan Usaha Besar ke pasar lokal, regional, maupun global.
  5. Memberikan fasilitasi “interface“ terhadap perbedaan sistem perdagangan, investasi, dan teknologi.

Disadari bahwa masih banyak persiapan yang harus dilakukan, baik aspek SDM, manajemen, jalinan pasar, infrastruktur dalam mewujudkan jaringan bisnis UKM yang kuat di indonesia. Dengan niat dan upaya yang kuat secara bersama-sama yang dilatarbelakangi oleh kepedulian pada kondisi dan keadaan masyarakat ekonomi indonesia dalam memasuki abad baru, diharapkan mampu secara bertahap menghampiri, merangkul, dan menggiring seluruh potensi UKM untuk bergiat bersama-sama mengembangan ekonomi rakyat yang kokoh, dan mensejahterakan serta berdaya saing global

Melalui jaringan SME Center diharapkan akan mempercepat terbentuk struktur jaringan ekonomi bisnis UKM yang kuat dan terintegrasi melalui jaringan SME Center yang dilengkapi dengan sistem informasi dan aplikasi e-business yang bersifat global yang akan membantu UKM menigkatkan akses pasar, permodalan, manajemen, dan kualitas sehingga diharapkan akan terbentuknya ekonomi nasional yang kokoh berbasis UKM yang mampu bersaing ditingkat global dalam rangka menghadapi era perdagangan bebas ke depan.

Konsep SME Center yang digunakan harus mampu memberikan solusi menyeluruh bagi UKM sehingga tidak mengulangi program yang sebelumnya sudah ada. Di SME-Center tidak hanya pada akses pasar, pendidikan dan pelatihan manajemen. Terakhir ini dilakukan dengan cara e-learning atau belajar jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan komunikasi. SME-Center dikelola oleh orang-orang yang mengerti bisnis. Divisi yang dibangun juga dilengkapi dengan marketing, customer service, programmer. Maka ketika UKM mempunyai kesulitan, bisa diberikan pemecahan masalah.

Dalam upaya meningkatkan aksesbilitas UKM ke pasar, BRI, CD-SMES dan KADIN mengembangkan pelayanan kepada UKM, antara lain dengan pengembangan SME Center. Pengembangan SME Center ini didirikan bersama-sama dengan KADIN dan TELKOM, tidak saja bertujuan untuk membangun jaringan, E’market place menjalankan juga sebagai pusat informasi maupun edukasi bagi para UKM. Dengan kerjasama TELKOM, CD-SMEs dan BRI dikembangkan suatu konsep pembinaan dan pemberdayaan  Industri UKM melalui pemanfaatan teknologi informasi. Konsep ini merupakan bagian dari upaya pembentukan struktur ekonomi nasional melalui struktur industri yang ber-value-chain dalam rangka penciptaaan nilai tambah maksimal dan penjalinan-pasar (market linkage) antar UKM dan UKM dengan Usaha besar  baik di pasar lokal, regional, maupun global.

SME Center merupakan implementasi konsep yang dikembangkan TELKOM bersama BRI dan CD-SMEs yaitu suatu simpul pelayanan bagi UKM yang dikembangkan di sentra sentra industri UKM di daerah yang difasilitasi dengan sistem informasi e-commerce sehingga akan memberikan “one stop” total solusi bagi UKM untuk dapat akses kepada pasar, permodalan, kualitas, pendidikan dan pelatihan, serta manajemen dalam meningkatkan usahanya sehingga akan dapat memberikan nilai tambah maksimal bagi terbentuknya fundamental ekonomi nasional yang kokoh berbasis kepada jaringan ekonomi bisnis UKM.

Sumber : Kristiono, 2003.

Program awal, dimulai dari pembangunan pilot project SME-Center di 9 lokasi yang merupakan upaya kolaborasi bersama TELKOM dengan BRI dan CD-SMEs.  Implementasi awal ini diharapkan mampu menjadi kisah sukses untuk kemudian menjadi model untuk bisa diterapkan di sentra-sentra ekonomi lainnya. Kami menyadari bahwa implementasi SME-Center akan merupakan proses evolusi, mengingat setiap daerah memiliki karakter dan potensi yang khas dengan tingkat penerimaan yang berbeda-beda.

Pelaku usaha, dijelaskan bisa mendatangi lokasi SME-Center di kotanya masing-masing. Di situ mereka bisa mengakses internet melalui kartu SME-Center yang mereka miliki. Kenyataan di lapangan menunjukkan tidak mudah menarik UKM menjadi peserta. Perlu waktu untuk meyakinkan mereka bertransaksi di dunia maya. Apalagi tingkat pengetahuan masih rendah. Kendati sudah memiliki komputer, masih sebatas untuk membuat surat.

Keterpurukan yang dialami makro ekonomi Indonesia dewasa ini telah membawa ekonomi nasional berada pada pertumbuhan negatif dengan berbagai dampak yang ditimbulkan, sementara pemulihan kembali ekonomi nasional akan sangat tergantung dari upaya menggerakkan kembali sektor riil.

F. Pengembangan Jaringan SME Center di Indonesia

Jaringan SME center diawali dari pembentukan klaster-klaster industri UKM yang ada dan tersebar di seluruh wilayah RI, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan komoditas komoditas unggulan yang ada di daerah serta kedepannya akan menjalin dan menghubungkan kemitraan inter dan intra komoditas sehingga akan terbentuk suatu industri yang “bervalue chain” dari mulai bahan baku sampai menjadi produk yang siap untuk eksport.

Sumber : Muhammad Nadzif,203

Utuk mengaplikasikan program MCT telah dikembangkan situs www.sme-center.com oleh TELKOM khusus untuk mengakomodasi layanan e-business yang dibutuhkan oleh komonitas UKM dalam menunjang kegiatan bisnisnya. Layanan yang dapat diberikan kepada UKM adalah : Katalog produk UKM, Company profile UKM, Secure Colaborative Commerce, Supply Chain Management, Procurement, virtual training and education, dan virtual b2b marketplace.

Pengembangan layana pada aplikasi www.sme-center.com dilaksanakan bertahap sesuai dengan tingkat kebutuhan akan layanan tersebut oleh UKM sehingga akan berkembang seiring dengan perkembangan akan kesiapan UKM dalam menerima teknologi infokom sekaligus sebagai proses pembelajaran bagi UKM.

Dalam hal updating informasi / mengisi konten pada aplikasi yang telah dikembangkan tersebut, mengingat kedinamisan dan keanekaragaman informasi yang akan disajikan pada aplikasi www.sme-center.com, dibutuhkan kerjasama yang saling menguntungkan antara berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan UKM yaitu dengan Pemerintah, BUMN, BUMS, Perguruan Tinggi, LSM dsb. Maksud kerjasama kemitraan dari berbagai institusi tersebut adalah untuk memberikan layanan yang bersifat total solusi e-business bagi komunitas UKM sebagai sasaran yang akan menerima layanan tersebut.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dari uraian sebelumnya dalam karya tulis ini, selanjutnya dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Usaha kecil dan menengah (UKM) tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi jumlah usaha (establishment) maupun dari segi penciptaan lapangan kerja.
  2. Era globalisasi dan kemajuan  teknologi informasi yang berkembang sangat cepat telah memaksa kita mempersiapkan diri mau tidak mau untuk masuk dan menjadi bagian aktif dari masyarakat ekonomi-informasi. Internet economy’ mendorong globalisasi dan “networking” dunia usaha.
  3. Pengembangan UKM berbasis teknologi informasi (IT) menjadi sangat penting bila melihat kondisi cakupan geografis Indonesia yang begitu luas dengan sumber daya yang tersebaR, sehingga diperlukan suatu jaringan yang terintegrasi dan terpadu melalui teknolgi informasi dan komunikasi yang tepat yang akan membentuk jaringan pusat pusat komoditi unggulan.
  4. Telecenter adalah merupakan tempat mengakses informasi, berkomunikasi dan mendapatkan pelayanan sosial dan ekonomi dengan menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan sambungan ke internet. Kegiatan ini telah dideklarasikan di Geneva tahun 2003 bahwa untuk tahun 2015 diharapkan seluruh Desa di Dunia sudah terhubung secara online.
  5. Layanan-layanan dan teknologi Telecenter dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tertentu yang dilayaninya. Meskipun Telecenter bervariasi dalam hal layanan dan teknologi yang ditawarkannya, sebagian besar menyediakan akses kepada telepon, SMS, faks, komputer, dan Internet (termasuk e-mail dan Jaringan Jembar Jagad atau Web Dunia/www).
  1. MCT (Multipurpose Community Telecenters) merupakan tempat dimana masyarakat bisa memperoleh dukungan teknologi komunikasi dan informasi (ICT-Information and Communication Technology) untuk mengakses berbagai layanan secara aman.
  2. MCT ini diharapkan akan dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat, antara lain: e-government (e-public service, layanan publik), e-learning (distance/open learning – layanan pendidikan), e-commerce (SME-center, untuk jaringan bisnis UKM), dan lain sebagainya
  3. Dalam hal pengembangan bisnis UKM, Implementasi MCT diwujudkan dalam bentuk optimalisasi pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dalam pemberdayaan dan pengembangan UKM antara lain melalui jaingan SME-Center, pengadaan web site internet bagi UKM, Komputerisasi UKM, Virtual Office, dan layanan teknologi informasi lainnya.
  4. Pengembangan MCT bersifat terbuka bagi siapa saja yang memiliki concern dalam pengembangan UKM berbasis pemanfaatan IT.Dengan pendekatan komunitas maka sangat diharapkan aksesibilitas justru bisa menjangkau masyarakat secara lebih luas dan dengan skala biaya dan efisiensi yang bisa dijaga.
  5. Telah dibentuk CD-SMEs (Center for Development of Small Medium Enterprises) yang berfungsi memfasilitasi pengembangan kewirausahaan UKM, akses informasi, akses pasar, akses infrastruktur,  serta sebagai  pusat “virtual” dengan memanfaatkan jaringan komunikasi dan informasi yang menjadi jalinan titik singgah/simpul (“node”) dari jalinan bisnis lokal menuju jalinan bisnis internasional melalui simpul-simpul  lain di setiap negara.
  6. Hal yang paling penting adalah menjalin sinergi atau bekerjasama dengan pemerintah daerah, khususnya dalam rangka otonomi daerah. Pemerintah daerah memiliki power dan juga resource di daerah itu, yang dapat diagregat untuk mendorong kegiatan-kegiatan ekonomis dan pemerintah daerah juga terlibat.
  7. Harus dijalin pula sinergi dengan investor-investor lainnya. Yang juga penting menjadi perhatian dalam pengembangan MCT adalah tidak hanya aksesibilitas, melainkan juga SDM dan skema pembiaya (micro finance), yang akan sangat banyak membantu secara operasional di lapangan.

B. SARAN

  1. Kepada para pelaku UKM agar memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi informasi dalam memajukan usaha seperti program komputerisasi, pemnafaatan website, virtual office dan pemnafaatan jaringan UKM.
  2. Pemerintah dan berbagai pihak agar memberikan perhatian khusus dalam upaya pemberdayaan dan pengembangan UKM melalui program yang berkelanjutan dan tidak hanya beroriewntasi “proyek” semata.
  3. Pemerintah, LSM, Perguruan tinggi dan masyarakat secara luas agar bersinergi dalam memanfaatkan teknologi infrmasi secara optmal untuk pemberdayaan UKM dan kemjaun ekonomi pada umumnya.
  4. Kepada seluruh masyarakat luas dan komponen yang terkait agar mensosialisasikan pentingnya pemanfaatan IT untuk kemajuan ekonomi dan UKM pada khususnya.


DAFTAR PUSTAKA

Amang, Beddu. 1995. Ekonomi Rakyat, Usaha Kecil, dan Koperasi. Jakarta: PT. DharmaKarsa Utama.

Anggawirya, E. 2001. Mengenal internet. Jakarta: PT. Contara Rajawali.

Alisyahbana, Iskandar. 1997. Cyber-Space Dari Peradaban Gelombang Ketiga. Elektro Indonesia Hal. 3-6.

Hudha Sakti, Pilihan Publik Sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang Di Bidang Permodalan, Skripsi-Fakultas Ekonomi Univ, Brawijaya Malang, 2006

Idris F. Sulaiman, “Buku Panduan Penyelenggaraan Telecenter dengan Partisipasi Swasta, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Agustus 2003.

Kristiono, MCT Harus Memberi Manfaat Ekonomis, majalah ebizzasia Volume I Nomor 08 – Juni 2003

Nurhajati. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Dan Keunggulan Bersaing Usaha Kecil Yang Berorientasi Ekspor Di Jatim. Disertasi. Tidak di Publikasikan. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang, 2005

Nadzif, Jaringan SME Center: Solusi Terpadu Bagi Pengembangan UKM melalui Optimalisasi Sistem Informasi dan Aplikasi  e-Business, Makalah PT. Telkom, 2003

Suhardjo, Sussongko,Pembangunan daerah, Mendorong Pemda Berjiwa Bisnis, Jakarta, Penta-Rei, 2006

Solthan, Ibrahim. (2006). Menatap Masa Depan, Strategi Pengembangan Pendidikan. Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Bantaeng

Tung, K. Y. 1996. Akses cybereducation dalam global universitas. Berita Krida Wacana. VIII (8). Halaman 28 – 31.

Tahir, dkk Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Pembinaan Kelompok Usaha Sektor Informal di Sulawesi Selatan, Laporan Penelitian, Balitbangda Sulsel, 2006

Wahid. 2000. Welcome to cyberspace. Yogyakarta: Profesi FT UII.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: