jump to navigation

FASILITATOR DAN TEKNIK KOMUNIKASI 7 April 2010

Posted by sybcommunity in TRAINING.
trackback

Apa Fungsi Fasilitator ?
Fasilitator adalah orang yang memberikan bantuan dalam memperlancar proses komunikasi sekelompok orang, sehingga mereka dapat memahami atau memecahkan masalah secara bersama.

Fasilitator bukanlah seseorang yang bertugas hanya memberikan nasihat atau pendapat ahli. Fasilitator harus menjadi nara sumber yang baik untuk berbagai permasalahan remaja. Oleh karena itu, tugas fasilitator bagi remaja biasanya dilakukan oleh guru, tokoh masyarakat, pembina, pembimbing dan >kader, maupun teman sebaya yang telah mendapat latihan.

Kemampuan Seorang Fasilitator
1. Berkomunikasi dengan baik
Fasilitator harus mendengarkan pendapat setiap anggota kelompok, menyimpulkan pendapat mereka, menggali keterangan lebih lanjut, dan membuat suasana akrab dengan peserta diskusi kelompok.
2. Menghormati sesama anggota kelompok
Fasilitator harus menghargai sikap, pendapat, perasaan dari setiap anggota kelompok.
3. Berpengetahuan
Fasilitator harus mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap setiap persoalan remaja yang akan dibahas sehingga harus mempunyai minat yang besar terhadap berbagai persoalan keremajaan yang ada di masyarakat.
4. Memiliki sifat permisif (terbuka)
Fasilitator harus dapat menerima pendapat atau sikap yang mungkin kurang sesuai dengan pandangan masyarakat luas yang disampaikan oleh anggota kelompok, karena remaja sering bersikap aneh dan canggung. Fasilitator menanggapi hal tersebut diatas dengan sikap terbuka, sambil tertawa atau bergurau.

Teknik Fasilitator
Dalam melaksanakan tugas sebagai fasilitator untuk menyampaikan berbagai materi kesehatan repoduksi remaja, maka 4 teknik dasar perlu dipelajari dan digunakan agar dia menjadi terampil. Teknik tersebut adalah:
1. Pencairan suasana
Maksud pencairan suasana adalah agar suasana diskusi kelompok menjadi tenang, nyaman, santai dan tidak tegang, gerah atau beku. Maka fasilitator harus memperlihatkan raut wajah yang ramah dan banyak senyum, serta dalam memberikan contoh atau celetukan yang lucu tetap dalam suasana terkendali. Waktu untuk pencairan suasana cukup sekitar 10-15 menit, dan hal ini dilakukan pada saat pertemuan pertama.
Pencairan suasana dilakukan dengan langkah-langkah:
1. Memperkenalkan diri
2. Menjelaskan maksud dan tujuan penyampaian topik
3. Meminta setiap peserta kelompok saling memperkenalkan diri
4. Menawarkan kesepakatan anggota kelompok menetapkan:
o topik apa yang akan dibahas dalam pertemuan
o waktu dan tempat yang paling cocok untuk bertemu
o pembagian kelompok jika jumlah anggota terlalu besar (idealnya setiap kelompok berjumlah antara 7-9 orang)
5. Melanjutkan acara dengan ceramah sesuai topik yang disepakati.

2. Ceramah
Ceramah adalah menyampaikan materi kepada peserta kelompok agar pesan dan kesan yang benar dapat dipahami oleh peserta. Untuk memudahkan digunakan alat bantu berupa buku materi, lembar balik, papan/alat tulis. Waktu yang diperlukan untuk ceramah sekitar 15-20 menit atau disesuaikan dengan banyaknya materi yang akan dibahas.

Ceramah dilakukan dengan langkah-langkah:
1. Siapkan seluruh gambar/buku, lembar balik, alat dan papan tulis
2. Bagikan buku/gambar sesuai topik yang akan dibahas
3. Berikan kesempatan sekitar 3 menit kepada peserta untuk melihat-lihat materi
4. Mulailah menjelaskan topik yang dibahas sesuai urutan lembar balik
5. Selesaikan ceramah sampai semua topik telah dijelaskan
6. Lanjutkan dengan diskusi kelompok
3. Diskusi
Diskusi adalah pendalaman materi yang dilakukan secara komunikasi dua arah, sehingga akan memberikan arti lebih mendalam bagi peserta kelompok. Fasilitator bertindak sebagai penengah dan memberikan kesempatan berbicara pada semua anggota kelompok.

Cara ini sangat cocok untuk remaja karena mereka akan merasa lebih dihargai pendapat atau pengetahuannya. >Waktu yang diperlukan untuk diskusi setiap topik ini sekitar 25-40 menit.

Diskusi dilakukan dengan langkah-langkah:
1. Mengajukan pertanyaan atau mengangkat masalah yang terkait dengan topik. Misalnya, “apa saja perubahan jasmani yang nampak pada remaja pria?”
2. Memberikan kesempatan kepada setiap peserta kelompok secara bergiliran untuk memberikan satu jawaban. Misalnya, si A: suara membesar; B: keluar bulu kemaluan; C: bulu ketiak
3. Jika suatu jawaban mirip dengan yang sudah dikemukakan oleh peserta lainnya, jangan ditolak atau dicela. Misal si F: keluar jakun; G: keluar kumis/jambang. Tanggapi: “Ya, betul, itu memperkuat atau memperkaya jawaban kita!
4. Memperdalam atau menambah jawaban dapat dengan menanyakan secara sederhana seperti: “apa lagi”, “masih ada?” atau “mungkin masih ada lagi?”
5. Mungkin ada jawaban yang seharusnya ada tetapi tidak muncul dalam diskusi karena peserta tidak tahu atau malu mengemukakan. Maka hal tersebut bisa diangkat oleh fasilitator dengan cara bertanya seperti, misalnya: “bagaimana dengan mimpi?” atau “ada yang pernah tahu tentang mimpi basah?” Juga “bagaimana dengan otot-otot tubuh?” atau “jerawatan barangkali?”
6. Mungkin ada jawaban yang tidak tepat, jawablah dengan taktis. Misalnya, si X menjawab “ingin berhubungan seks” atau “suka tegang itunya… kalau lihatin cewek yang ….” Tanggapilah, “yah, itu memang betul, tetapi itu sebenarnya aspek psikologis atau perilaku –yang akan kita bahas setelah diskusi ini. Mungkin masih ada pertanyaan lagi?”
7. Tidak jarang diskusi dapat terlalu meluas, maka fasilitator harus mengendalikan diskusi tersebut agar kembali ke topik yang sedang dibahas.

4. Permainan
a. Kuis
Permainan Kuis adalah cara mudah bagi peserta kelompok untuk mengulang atau mengingat kembali materi yang telah disampaikan agar kita yakin bahwa isi dari materi telah dapat dimengerti sepenuhnya oleh para peserta kelompok. Waktu untuk permainan kuis sekitar 15 menit, sebelum pertemuan tersebut ditutup.
Alat yang digunakan adalah kartu-kartu yang berisi pernyataan, dengan jawaban yang mudah yaitu Ya atau Tidak, atau Benar atau Salah. Beberapa pernyataan sengaja dibuat salah, sehingga jawaban yang benar harus diterangkan oleh peserta kelompok. Sedangkan bagi beberapa pernyataan yang benar, fasilitator hanya bertugas untuk menegaskan kebenaran pernyataan tersebut.

Bermain peran (role-playing)
Permainan peran adalah cara yang sangat efektif untuk belajar bersikap secara benar bagi peserta, dan sangat membantu peserta kelompok apabila mereka menemukan masalah yang nyata di kemudian hari. Untuk permainan ini dapat dibuat kartu-kartu cerita, kasus, atau dialog, yang dibuat untuk permainan individual maupun kelompok.

Contohnya adalah peragaan tentang “bagaimana menolak tawaran narkotika atau minuman keras” atau “bagaimana menolak rayuan pacar untuk seks”. Satu atau dua orang dalam kelompok diminta memperagakan peranan tersebut, sedangkan anggota kelompok yang lain kemudian membahas atau memberikan masukan tentang cara-cara lain yang lebih baik.

Membangun Komunikasi Dengan Remaja
1. Jangan memakai bahasa yang terlalu resmi. Bahkan sesekali gunakan istilah-istilah yang berkembang di kalangan kaum muda, seperti bahasa “gaul” atau “prokem”, atau yang populer di televisi maupun di daerah anda. Misalnya kata-kata: nyokap/bokap; cepek/gopek; cowok/cewek; gue/lu. Tentu saja dialek tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
2. Jangan menggurui remaja. Ajaklah mereka berdiskusi mengenai keadaan dan masalah yang dihadapi remaja saat itu dengan menghormati sudut pandang mereka.
3. Gunakanlah kliping koran dan majalah tentang masalah remaja untuk menggugah atau memperkaya pengetahuan mereka tentang kondisi remaja dan permasalahan yang mereka hadapi.

Tempat/Lokasi Pertemuan
Pertemuan kelompok dapat dilakukan di mana saja. Bahkan, kalau perlu di bawah pohon, di lapangan atau pinggir tanggul sungai. Pertemuan juga dapat diadakan di halaman balai desa atau rumah salah seorang anggota kelompok.
Yang penting tempat itu mempunyai suasana yang:
o Nyaman bagi semua anggota kelompok
o Aman dari gangguan (lalulalang orang, lalulintas, hujan dsb.)
o Tenang
o Menjamin kerahasiaan seluruh anggota kelompok

Tempat duduk diatur melingkar atau membentuk huruf U, jangan terlalu formal seperti di ruang kelas. Fasilitator duduk bersama dan di antara mereka, membentuk lingkaran. Sebaiknya tidak perlu memakai kursi, seluruh anggota kelompok bersila di atas alas tikar.

Waktu dan Jadwal Pertemuan
Semua modul pertemuan yang berisi materi ini akan memakan waktu sekitar 1,5 -2 jam. Apabila pembahasan suatu topik dalam sebuah modul memakan waktu yang lebih lama, maka topik tersisa itu bisa digabungkan pada pertemuan berikutnya atau diadakan pertemuan tambahan, sesuai kesepakatan peserta kelompok.
Dalam hal penggabungan materi, fasilitator harus cermat merangkaikan topik tersebut sehingga pembahasan topik itu dengan yang lainnya mudah dipahami peserta.
Penjadwalan hari dan jam pertemuan kelompok sebaiknya mengikuti kesepakatan semua anggota kelompok. Demikian pula penyampaian modul tidak perlu berurutan seperti di dalam buku materi, namun disesuaikan berdasarkan kesepakatan. Hanya untuk modul pokok (modul 1 & 2) karena materinya berkaitan sangat erat harus diusahakan agar penyampaian materi dilakukan secara berurutan

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: