jump to navigation

Cyberpreneurship 7 April 2010

Posted by sybcommunity in ARTIKEL.
trackback

Karya Ilmiah Teknologi 2009
Balitbangda Propinsi Sulawesi Selatan
Oleh
Bahrul ulum Ilham, S.Pd

ABSTRAK

Tujuan penulisan karya tulis adalah untuk mengetahui implementasi cyberpreneruship dalam upaya peningkatan pemasaran produk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Propinsi Sulawesi Selatan. Metode penulisan dilakukan dengan menggunakan metode studi kepustakaan (library research. Data diperoleh dari beberapa literatur seperti jurnal, majalah, surat kabar, buku-buku, internet serta berbagai referensi yang relevan.
Cyberpreneur atau infopreneur adalah mereka yang memanfaatkan cyberspace atau dunia maya untuk mengembangkan bisnis atau mendapatkan profit. Untuk mengaplikasikan konsep cyberpreneur dikembangkan konsep atau rumus dasar dalam mengaplikasikan konsep cyberpreneur, yaitu : Content – Traffic – Presell – Monetize.
Konsep di atas apabila diaplikasikan pada UKM dimaksudkan bahwa UKM yang ingin sukses berbisnis secara online dituntut untuk memiliki atau membangun website yang hidup sebagai usaha, oleh karena itu UKM tersebut harus memulianya dengan membangun Isi atau Content yang bermutu. Dengan adanya isi yang bagus akan menarik pengunjung atau Traffic akan meningkat. Setelah pengunjung datang tugas selanjutnya adalah membangun Pra Jual atau Presell yakni menarik hati pengunjung atau pelanggan.Selanjutnya kita membangun kepercayaan mereka pelanggan terhadap kita dan produk kita. Setelah itu baru pada saatnya kita akan mendatangkan uang dengan strategi Monetise (web yang menghasilkan uang) dengan tepat.

Kata kunci : Usaha Kecil dan Menengah, cyber, entrepreneur, pemasaran

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengalaman saat krisis ekonomi melanda Indonesia telah membuktikan bahwa kegiatan ekonomi rakyat kecil dalam bentuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan bagian terbesar dalam kegiatan ekonomi masyarakat yang mampu bertahan menghadapi badai krisis. Usaha kecil dan menengah (UKM) tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi jumlah usaha (establishment) maupun dari segi penciptaan lapangan kerja.

Potensi UKM di Indonesia dapat dilihat dari survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistk (BPS) dan Kantor Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menegkop & UKM) terhadap usaha-usaha kecil termasuk usaha-usaha rumah tangga atau mikro. Hasil survei menunjukkan usaha mikro pada tahun 2000 dengan jumlah total penjualan (turn over) setahun yang kurang dari Rp. 1 milyar) meliputi 99,9 persen dari total usaha-usaha yang bergerak di Indonesia. Sedangkan usaha-usaha menengah berupa usaha-usaha dengan total penjualan tahunan yang berkisar antara Rp. 1 Milyar dan Rp. 50 Milyar meliputi hanya 0,14 persen dari jumlah total usaha. (BPS, 2000). Dengan demikian, potensi UKM sebagai keseluruhan meliputi 99,9 persen dari jumlah total usaha yang bergerak di Indonesia.

Perkembangan kegiatan usaha kecil dan menengah (UKM) menunjukkan perkembangan pesat dari tahun ke tahun. Dalam konteks usaha ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2006 jumlah usaha mikro dan kecil di luar sektor pertanian telah mencapai 19,3 juta kegiatan atau sebesar 77,7 persen, usaha menengah mencapai 5,2 juta atau 21 persen, dan usaha besar 500.000 atau 2 persen. Sementara jika dikaitkan dengan struktur ekspor Indonesia tahun 2005, potensi UKM justru baru mencapai 14,76 persen, jauh lebih kecil dibandingkan dengan ekspor usaha besar yang mencapai 85,24 persen.

Data tentang potensi UMKM menunjukkan keberadaannya sebesar 48,9 juta unit usaha pada tahun 2006 dengan kegiatan usaha yang mencakup hampir semua lapangan usaha, serta tersebar di seluruh tanah air. Oleh karena itu, pemberdayaan UMKM menjadi semakin strategis untuk mendukung peningkatan produktivitas, penyediaan lapangan kerja yang lebih luas, dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat miskin.

Kegiatan UMKM pada tahun 2006 menyerap hampir 96,2 persen dari seluruh pekerja yang berjumlah 85,4 juta pekerja. Kontribusi UMKM terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun yang sama adalah sebesar 53,3 persen dengan laju pertumbuhan nilai tambah sebesar 5,4 persen. Sementara itu, jumlah koperasi pada tahun 2006 telah mencapai 140 ribu unit yang tersebar di seluruh propinsi, dengan anggota sebanyak 28,6 juta orang.

Namun disisi lain, berbagai persoalan masih menyelimuti UKM-UKM di tanah air. Menurut survei yang dilakukan oleh BPS menemukan sejumlah kendala yang dihadapi usaha kecil dalam mengembangkan usahanya secara ringkas, selain program adalah pemasaran, pengadaan bahan baku, teknis produksi, dan persaingan pasar. Demikian juga potensi ekspor kelompok UKM masih sangat jauh tertinggal dibandingkan usaha kelompok besar, yaitu hanya sebesar 14,76 persen berbanding 83,24 persen. (Media Indonesia, 2006).

Kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi juga disumbangkan oleh usaha ekonomi masyarakat berskala kecil dan menengah, baik formal maupun informal di Propinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan sensus ekonomi Propinsi Sulawesi Selatan tahun 1996 tentang besarnya omset usaha, maka diperoleh data bahwa jumlah pelaku usaha kecil, menengah dan besar di Sulawesi Selatan mencapai 1.570.145 unit usaha, termasuk di unit usaha yang bekerja di sektor pertanian berjumlah 980.072 unit usaha (BPS Sulawesi Selatan, 1996).

Berdasarkan data tahun 2000, pengusaha kecil dan menengah di Suawesi Selatan berjumlah 1.594.602 yang bergerak di 9 (sembilan) sektor ekonomi dengan dominasi sektor pertanian dengan jumlah 992.894 atau sebesar 62,26 persen. Sektor perdagangan dengan jumlah 266.566 atau sebesar 16,38 persen dan sektor lainnya sekitar 20 persen. (Balitbangda Sulsel, 2003).

UMKM di Sulsel hingga September 2008 mencapai 750.364 unit,jauh di atas jumlah usaha besar yang hanya 1.272 unit.Dari jumlah tersebut, UMKM didominasi sektor perdagangan,industri kerajinan, dan layanan jasa. Jumlah usaha mikro Sulsel mencapai 658.525 unit yang didominasi kegiatan perdagangan dan jasa. Sementara skala usaha kecil sebanyak 87.319 unit, usaha menengah mencapai 4.520 unit. Di sisi lain, usaha besar serta korporasi hanya 1.272 unit yang didominasi perusahaan pengembang perumahan dan industri. (www.seputar-indonesia.com).
Keberadaan UMKM di Sulsel menjadi tolok ukur pertumbuhan ekonomi.

Sekitar 80% angkatan kerja disediakan dari UMKM. Namun, keterbatasan pelaku UMKM memasarkan produk mereka dan kelemahan dalam sistem manajerial usaha, menjadikan UMKM mengalami pertumbuhan usaha yang lambat.

Melihat besarnya potensi dan kontribusi UKM terhadap ekonomi nasional maupun daerah maka pemberdayaan UKM menjadi agenda yang sangat penting. Di masa mendatang, pemberdayaan usaha kecil dan menengah perlu dilakukan secara lebih serius. Dalam hal inilah pentingnya mencari berbagai pendekatan yang paling efektif untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Sementara itu, komitmen bangsa Indonesia dalam menyepakati era globalisasi AFTA maupun WTO menuntut penyikapan sedini mungkin oleh semua pihak, termasuk pelaku UKM yang memiliki potensi-potensi yang belum tergali secara optimal. Potensi UKM yang belum berkembang secara optimal ini tidak dapat menjamin apakah akan mampu bertahan (survive) di era pasar bebas. UKM harus senantiasa didorong dan mengatasi berbagai kelemahannya agar mampu bersaing dan tidak jatuh tertindas oleh kompetitor dari negara luar.

Menyikapi hal di atas, salah satu kesepakatan deklarasi G-15 di Indonesia, adalah bahwa UKM perlu difasilitasi dalam liberalisasi perdagangan dan investasi untuk segera beradaptasi terhadap kecenderungan globalisasi serta perlu difasilitasi dengan optimalisasi sistem informasi dan aplikasi e-business sehingga akan mempunyai daya saing global.
Era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang berkembang sangat cepat telah memaksa kita mempersiapkan diri mau tidak mau untuk masuk dan menjadi bagian aktif dari masyarakat ekonomi-informasi. Internet economy’ mendorong globalisasi dan “networking” dunia usaha.
Kondisi di atas menjadikan pasar dan perdagangan makin terbuka tanpa batas, serta peluang yang setara bagi pelaku-pelaku bisnis tidak mengenal apakah berasal dari pengusaha besar, menengah, atau pun kecil, siapa yang cepat akan menang atau dikenal dengan “time-to-market” atau “economic of time”. (Muhammad Nadzif, 2001).

Teknologi Informasi (IT) adalah revolusi abad 20, sehingga jaman global informasi bergerak sangat cepat dan menjadi pelaku bisnis dalam memenangkan persaingan. Internet adalah sekian banyak IT yang membuka peluang bagi UKM untuk menebar pemasaran dan menumbuhkan jaringan small and medium enterprise atau UKM di nusantara dan seluruh belahan dunia.

Di era ekonomi digital, tantangan tidak hanya datang dari para pesaing saja, melainkan dari segala penjuru. Harus disadari bahwa saat ini arus informasi telah beralih kepada digital dan networked, tidak ada lagi dinding-dinding yang membatasi ruang gerak kita dan sebagai dampak yang lebih luas lagi adalah tidak ada satupun bisnis yang aman. Berbagai produk baru akan tercipta dan kompetsi baru akan muncul dari tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan menjadi pesaing. (BisnisMan News, 2006).

Berdasarkan uraian di atas, pengusaha UKM dituntut menjadi bagian dari komunitas global melalui pemanfaatan teknologi informasi. Bila hal ini tidak dilakukan, pelaku UKM di tanah air akan tertinggal jauh dan akan dilibas arus global.

Pengembangan UKM berbasis teknologi informasi (IT) menjadi sangat penting bila melihat kondisi cakupan geografis Indonesia yang begitu luas dengan sumber daya yang tersebar, maka tidak ada cara lain dalam pengemabangan UKM diperlukan suatu jaringan yang terintegrasi dan terpadu melalui teknolgi informasi dan komunikasi yang tepat yang akan membentuk jaringan pusat pusat komoditi unggulan, diantaranya adalah melalui penerapan Cyberpreneur.

Dengan demikian, penulis mengajukan judul karya ilmiah teknologi, yaitu sebagai berikut :

“IMPLEMENTASI CYBERPRENEURSHIP SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PEMASARAN PRODUK UKM SULAWESI SELATAN”

B. Rumusan Masalah.
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam karya ilmiah teknologi ini adalah :
Bagaimanakah penerapan Cyberpreneur dalam upaya meningkatkan pemasaran produk Usaha Kecil dan Menengah di Propinsi Sulawesi Selatan ?

C. Tujuan Penulisan.
Adapun tujuan penulisan karya ilmiah teknologi ini adalah :
Untuk mengetahui pemanfaatan penerapan Cyberpreneur dalam upaya meningkatkan pemasaran produk Usaha Kecil dan Menengah di Propinsi Sulawesi Selatan


D. Manfaat Penulisan
.

  1. Diharapkan dapat menjadi informasi dalam penerapan teknologi informasi, khsusnya penerapan IT terhadap pengembangan UKM di Propinsi Sulawesi Selatan
  2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah, instansi terkait dan seluruh pelaku UKM dalam mengembangkan bisnis UKMN di era ekonomi digital sekarang ini.
  3. Sebagai bahan informasi untuk penelitian maupun penulisan sejenis di masa yang akan datang.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Cyberpreneur
Cyberpreneur berasal dari dua kata yakni kata cyber dan entrepreneur. Kata “Cyber” pada dasarnya diambil dari kata dalam bahasa Inggris “Cybernetis” yang konon berasal dari kata latin “Kubernetis” yang berarti integrasi atau komunikasi antara manusia dengan mesin dalam melaksanakan suatu proses kontrol. Kemudian dalam bahasa Inggris muncul istilah “to cybernate” yang berarti melakukan kontrol terhadap suatu proses dengan memakai komputer (Suarga, 2001).

Adapun istilah entrepreneur adalah istilah yang disamakan dengan kewirausahaan yang mulai dipopulerkan di Indonesia sejak tahun 1990. Kewirausahaan berasal dari istilah entrepeneurship yang sebenarnya berasal dari kata entrepreneur (Soeparman Soemahamidjaja 1977:2) yang artinya suatu kemampuan (ability) dalam berfikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak tujuan, siasat kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup. Dalam pengertian ini Marzuki Usman(1997:3) mengatakan entrepreneur adalah seorang yang memiliki kombinasi unsur (elemen-elemen) internal yang meliputi kombinasi inovasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang usaha.

Pendapat David Osborne & Ted Gaebler (1992) dalam bukunya ”Renventing Govermenent” lebih jelas mengatakan bahwa dalam perkembangan dunia dewasa ini dituntut pemerintah yang berjiwa kewirausahaan (Entrepreneurrial Governement).

Dengan memiliki jiwa kewirausahaan maka birokrasi dan instansi akan memiliki inovasi, optimisme dan berlomba untuk menciptakan cara-cara baru yang lebih efisien, efektif, inovatif, fleksibel dan adaptif.
Untuk sampai pada pembahasan mengenai cyberpreneur, terlebih dahulu perlu dijelaskan satu istilah yaitu cyberspace (ruang maya), karena cyberspace-lah yang akan menjadi objek atau concern dari cyberpreneur. Istilah cyberspace untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh William Gibson seorang penulis fiksi ilmiah (science fiction) dalam novelnya yang berjudul Neuromancer Istilah yang sama kemudian diulanginya dalam novelnya yang lain yang berjudul Virtual Light.

Menurut Gibson, cyberspace ”… was a consensual hallucination that felt and looked likea physical space but actually was a computer-generated construct representing abstract data”. Pada perkembangan selanjutnya seiring dengan meluasnya penggunaan komputer. istilah ini kemudian dipergunakan untuk menunjuk sebuah ruang elektronik (electronic space), yaitu sebuah masyarakat virtual yang terbentuk melalui komunikasi yang terjalin dalam sebuah jaringan kornputer (interconnected computer networks).’ Pada saat ini, cyberspace sebagaimana dikemukakan oleh Cavazos dan Morin adalah:”… represents a vast array of computer systems accessible from remote physical locations”.

Aktivitas yang potensial untuk dilakukan di cyberspace tidak dapat diperkirakan secara pasti mengingat kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat dan mungkin sulit diprediksi. Namun, saat ini ada b eberapa aktivitas utama yang sudah dilakukan di cyberspace seperti Commercial On-line Services, Bullelin Board System, Conferencing Systems, Internet Relay Chat, Usenet, EmaiI list, dan entertainment. Sejumlah aktivitas tersebut saat ini dengan mudah dapat dipahami oleh masyarakat kebanyakan sebagai aktivitas yang dilakukan lewat Internet. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa apa yang disebut dengan ”cyberspace” itu tidak lain. adalah Internet yang juga sering disebut sebagai ”a network of net works”. Dengan karakteristik seperti ini kemudian ada juga yang menyebut ”cyber space” dengan istilah ”virtual community” (masyarakat maya) atau ”virtual world” (dunia maya).

Kini dengan munculnya berbagai istilah yang memakai “cyber”, seperti cyber-space, cyber-city, cyber-organism (cyborg), cyber law dan cyber-eprityng. Karena di sana tersirat kata komputer, momunikasi, internet, yang menuju arti “Verbal” atau maya secara kasar ada tetapi dalam dunia yang tidak tersentuh tangan secara fisik.
Adapun defenisi Cyberpreneur dikemukakan oleh Wahyu Pramusinto yang mengemukakan bahwa :

“Cyberpreneur atau infopreneur adalah orang yang bisnia utamanya adalah berbagi dan menjual informasi elektronik -membuat blog atau website – memasarkan produk sendiri atau orang lain. Umumnya adalah seorang enterpreneur yang menghasilkan uang dengan cara menjual informasi melalui internet. Profesi ini sudah ada sebelum internet berkembang pesat. Biasanya mereka menjual informasi melalui audio cd, cd rom, video, talkshow, conference. Dengan adanya internet, mereka bisa menjual informasi melalui internet. Pangsa pasar yang lenih luas karena internet bisa diakses dari seluruh dunia”

Dengan defenisi di atas disimpulkan bahwa cyberpreneur atau infopreneur adalah mereka yang memanfaatkan cyberspace atau dunia maya untuk mengembangkan bisnis atau mendapatkan profit. Cyberpreneur sering dikatakan pula sebagai entrepreneur online, mereka secara bersama-same berusaha membuka pasar baru di dunia cyber, baik pengusaha pemula aupun pengusaha yang telah mapan.

Umumnya pendekatan diantara keduanya akan berbeda di beberapa aspek yang sifatnya praktis. Pengusaha muda (startup) umumnya sangat antusias dengan fleksibilitas yang tinggi. Fleksibilitas tersebut juga tampak pada teknologi yang digunakan, startup companies dapat mengatur infrastruktur teknologi yang digunakan disesuaikan dengan e-toko mereka. Tidak demikian dengan pengusaha lama, mereka harus lebih berhati-hati terutama untuk menjaga nama baik mereka.

B. Pengertian dan Konsep Pemasaran
Konsep atau istilah pemasaran bersala dari kata dasar pasar. Pada mulanya pasar diartikan sebagai tempat bertemunya antara penjual dan pembeli. Dalam perkembangan selanjutnya pengertian pasar ini berkembang menjadi keseluruhan permintaan barang atau jasa oleh pembeli-pembeli poteensial. Menurut Philip Kotler dalam Hidayat (1998) mengemukakan bahwa pasar terdiri dari semua pelanggan potensial yang memiliki kebutuhan dan keinginan tertentu serta mau dan mampu turut dalam pertukaran untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan itu.

Suatu perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya harus efektif menjalankan konsep pemasaran agar keuntungan yang diharapkan dapat terealisasi dengan baik. Ini menandakan bahwa kegiatan pemasaran dalam perusahaan harus dikoordinasi dan dikelola dengan cara yang labih baik.

Falsafah konsep pemasaran bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan konsumen. Kegiatan perusahaan yang berdasar pada konseop pemasaran ini harus diarahkan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Secara definitive dapat dikatakan bahwa konsep pemasaran adalah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomis dan social bagi kelangsungan hisup perusahaan (Swasta, 1996).

Dari definisi tersebut, perusahaan memiliki konsekuensi seluruh kegiatan perusahaan harus diarahkan untuk mengetahui kebutuhan konsumen dan mampu memberikan kepuasan agar mendapat laba dalam jangka panjang. Organisasi perusahaan yang menerapkan konsep pemasaran ini disebut organisasi pemasaran.

Konsep pemasaran juga menyatakan bahwa kunci untuk meraih tujuan organisasi adalah menjadi lebih efektif daripada para pesaing dalam memadukan kegiatan pemasaran guna menetapkan dan memuaskan kebutuhan pasar sasaran (Kotler, 1997). Konsep pemasaran ini bersandar pada empat pilar, yaitu : pasar sasaran, kebutuhan pelanggan, pemasaran terpadu dan profitabilitas.

Dewasa ini konsep pemasaran mengalami perkembangan yang semakin maju sejalan dengan majunya masyarakat dan teknologi. Perusahaan tidak lagi berorientasi hanya pada pembeli saja, akan tetapi berorientasi pada masyarakat atau manusia. Konsep yang demikianlah yang disebut dengan konsep pemasaran masyarakat (Swasta, 1996).

C. Pengertian dan Karakter Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Pengertian dan karakter usaha kecil dan menengah di Indonesia masih beragam dan tergantung dari konsep yang digunakan. Usaha Kecil masih sering identik dengan pengusaha golongan ekonomi lemah sehingga sampai saat ini masih banyak perbedaan pendapat tentang definisi Usaha kecil.

Kriteria usaha kecil di Indonesia berbeda–beda tergantung pada fokus permasalahan yang dituju dan di instansi yang berkaitan dengan sektor ini. Badan pusat Statistik (BPS) secara konsisten sejak tahun 1974 menggunakan pedoman jumlah tenaga kerja dalam mendefinisikan usaha kecil bilamana suatu usaha menggunakan jumlah tenaga kerja antara 5 dan 19 orang dikategorikan sebagai Usaha Kecil.

Departemen perindustrian, pada tahun 1990, mengemukakan kriteria usaha kecil dari sisi finensial, yaitu usaha yang nilai asetnya (tidak termasuk rumah dan tanah), dibawah Rp. 600.000.000. sementara menurut Kamar dagang dan industri (KADIN), sektor usaha yang tergolong kecil kalau memiliki modal aktif di bahwa Rp. 150.000.000. dengan turn over di bawah Rp. 600.000.000 per tahun, kecuali untuk sektor kontruksi dengan batasan memiliki modal aktif dibawah Rp. 250.000.000. dengan turn over dibawah Rp. 1 milyar per tahun. Pada tahun 1990 Bank Indonesia menentukan kriteria usaha kecil dari sisi finansial, yaitu usaha yang asetnya (tidak termsuk tanah dan bangunan), dibawah Rp. 600.000.000.

Dengan adanya Undang-undang tentang Usaha Kecil, maka paling tidak ada acuan formal tentang pengertian usaha kecil. Di dalam UU No.9 /1999 tentang Usaha Kecil disebutkan bahwa usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih/hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur didalam Undang-undang ini. Untuk lebih jelas dengan menggunakan angka nilai asset neto, dijelaskan dalam UU No.9 /1999 ditetapkan bahwa Usaha kecil adalah suatu unit usaha yang memiliki nilai asset neto (tidak termasuk tanah danbangunan) yang tidak melebihi Rp. 200 juta, atau penjualan per tahun tidak lebih besar dari 1 miliar.

Sedangkan menurut Inpres No. 10/1999 tersebut, Usaha Menengah adalah suatu unit dengan nilai asset neto (di luar tanah dan gedung) antara Rp 200 juta hingga Rp 10 miliar. Definisi yang paling baru dan mengakomodasi semua aspek atau kriteria yang dipakai oleh berbagai institusi (Hajati, 2003:46), yaitu:

  1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
  2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1 milyar.
  3. Milik Warga Negara Indonesia.
  4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahan yang dimiliki, dikuasai ataupun berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Besar.
  5. Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum atau usaha yang berbadan hukum termasuk koperasi.

Menurut Hudha Sakti (2006), komunitas usaha kecil dan menengah (UKM) bagian dari sistem ekonomi Indonesia yang sangat strategis dalam mendorong dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi ditinjau dari berbagai aspek yang dimilikinya, yaitu :

1) Kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang relatif rendah diperkirakan daya serap pada sektor UMKM mencapai 79,04 juta tenaga kerja atau 99,4 % dari total angkatan kerja yang bekerja.
2) Aktivitas bisnis UMKM mengisi semua sektor ekonomi diantaranya pertanian, perdagangan, jasa, industri dan sebagainya.
3) Kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan yakni mencapai sedikitnya 56,72 % dari total PDB
4) Proses produksi lebih banyak memanfaatkan bahan baku lokal, dan
5) Agregasi atau jaringan UMKM memperkuat perekonomian lokal maupun nasional.

Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah, termasuk di Indonesia.

Usaha Kecil & Menengah (UKM) ini juga sangat berperan dalam penyerapan tenaga kerja dan UKM juga sangat produktif dalam menghasilkan tenaga kerja baru & juga dapat menambah jumlah unit usaha baru yang mendukung pendapatan rumah tangga dari UKM tersebut.

Usaha Kecil & Menengah (UKM) juga memiliki fleksibilitas usaha yang bagus jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas besar. Dulu UKM belumlah mendapatkan perhatian yang penuh dari pemerintah, tapi sekarang pemerintah sedang menggalakkan program-program untuk peningkatan usaha kecil & menengah (UKM) yang ada di Indonesia serta memberikan perhatian yang khusus kepada UKM-UKM tersebut.

D. Perkembangan Teknologi Informasi dan Masa Depan UKM
Seiring pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membawa dampak di bidang perekonomian. Era ekonomi yang dewasa ini mulai dihadapi sering disebut era “ekonomi modern atau ekonomi baru/EB (the new economy/NE).” Ekonomi Baru sebenarnya menyangkut keseluruhan industri (dalam arti luas) yang bersaing dalam “tatanan” dan “cara” baru. EB bukan hanya menyangkut “teknologi tinggi,” tetapi lebih pada berinovasi dalam melakukan bisnis, terkait dengan produk (barang/jasa), “sektor,” dan sebagainya. Aktivitas produktif dalam EB menghadapi isu dan karakteristik yang hampir serupa, yaitu cepat, global, berjaringan, semakin dipengaruhi/ditentukan oleh “pengetahuan”, semakin sarat teknologi/inovasi.

Perbedaan EB dengan ekonomi “lama” (sebelumnya) pada dasarnya lebih pada “paradigma dalam melaksanakan/ mengelola dan mengembangkan aktivitas ekonomi. EB sangat sarat dengan dinamika perubahan yang cepat, aktivitas yang seolah tanpa batas (borderless), dan jaringan yang menjadi pola hubungan keseharian yang menentukan bagaimana proses nilai tambah dilakukan, serta bagaimana keterkaitan dan daya saing dibangun dan dipertahankan. Terlebih penting lagi sebenarnya adalah bahwa pengetahuan (knowledge) dan inovasi dianggap sebagai pendorong utama (the driving force) bagi EB.

Dalam kemajuan teknologi dan restrukturisasi perekonomian dunia pada dewasa ini dan kecenderungannya di masa yang akan datang, yang telah mengintegrasikan bagian-bagian dunia ini menjadi suatu ekonomi global maka syarat ketahanan (survival) bagi wilayah adalah harus mempunyai akses dan cukup kompetitif dalam sistem tersebut. Artinya wilayah harus mampu menempatkan diri dalam jaringan (networking) ekonomi nasional dan global. Lebih tegas lagi maknanya adalah local economic development harus dijadikan sebagai wahana untuk melakukan integrasi jaringan (networking) ini.

Pengertian integrasi jaringan tidak saja terhadap ekonomi nasional maupun global, namun juga secara internal yaitu jaringan kelembagaan sosial ekonomi secara lokal dan regional. Pada kaitan ini integrasi jaringan ditujukan pada identifikasi dan penciptaan kesempatan-kesempatan bisnis secara inovatif. Jadi yang menjadi sasaran adalah penciptaan suatu kewiraswastaan secara kolektif. (Tommy Firman, 2005)

Ketua komite ekonomi APEC, Mitsuru Takeuchi dalam Sussongko (2005) mengatakan, tatanan ekonomi baru dunia sangat terkait dengan perkembangan usaha kecil dan menengah, dan hal ini tidak dapat dilepaskan dari basis teknologi informasi. Ia mengatakan bahwa dalam perkembangan teknologi yang sangat cepat sekarang ini justru perusahaan skala kecil dan menengah yang mampu dengan cepat menyesuaikan diri.

Ketua Umum Forum Nasional UKM, Sofyan Tan menilai UKM harus melihat manfaat internet untuk akses pasar secara mudah dan efisien seiring era globasasi yang mau atau tidak mau pasti akan dihadapi. Kondisi inu menuntut UKM untuk memilih yang efektif dan kena sasaran. Trend sekarang yang terjadi adalah adanya trading house yang selalu untung besar. Dengan adanya internet, pelaku UKM bisa langsung berkomunikasi dengan buyers-nya. Sehingga mereka bisa memperoleh untung yang lebih besar.

Dalam pemberdayaan dan pengembangan UKM maka salah satu hambatan yang dihadapi adalah keterbatasan akses pasar. Di lain pihak kemampuan melakukan promosi sangat minim karena ketiadaan biaya. Mengatasi permasalahan tersebut maka kehadiran teknologi informasi menjadi jawaban atas kendala tersebut.

Namun disisi lain kita diperhadapkan pada masalah lainnya yautu kondisi masyarakat belum melek komputer, termasuk dalam hal kepemilikan komputer yang masih rendah. Berdasarkan data pada 2001 kepemilikan komputer di Indonesia cuma 11 per 1000 penduduk dan merupakan yang terendah di ASEAN.

Dengan perkembangan masyarakat virtual yang demikian besar saat ini, banyak orang yang berpartisipasi dalam berbagai interest group online – memperlihatkan pergeseran pardigma dari kekuatan ekonomi yang bertumpu pada pembuat / manufacturer ke kekuatan pasar. Paling tidak demikian yang dilihat oleh John Hagel dan Arthur Armstrong, sepasang analis dari McKinsey http://www.mckinsey.com/ sebuah perusahaan konsultan manajemen internasional.

Masyarakat virtual telah memperlihatkan effek-nya. Situs investment seperti Motley Fool http://www.fool.com/ memungkinkan anggota untuk bertukar pengalaman tanpa melalui broker atau perantara. Parents Place melalui situs http://www.parentsplace.com/ merupakan tempat pertemuan para orang tua yang akhirnya memberikan kesempatan pada vendor-vendor kecil untuk mencapai pelanggan potensial mereka untuk produk yang sangat spesifik seperti makanan bayi dan shampo.

Masyarakat virtual akan menggoyang kehebatan divisi marketing dan penjualan di perusahaan-perusahaan besar. Justru perusahaan-perusahaan kecil dengan produk yang lebih baik dan customer service yang baik akan dapat menggunakan masyarakat virtual ini untuk mengalahkan perusahaan besar – sesuatu yang cukup sulit dimengerti di dunia nyata.

BAB III
METODE PENULISAN

A. Jenis Tulisan
Tulisan ini bersifat deskriptif mengenai implelemtasi cyberpreneurship sebagai upaya meningkatkan pemasaran produk usaha kecil dan menengah (UKM) di Sulawesi Selatan, ditunjang dengan berbagai literatur yang relevan dengan masalah yang dikaji, kemudian disusun dalam bentuk kajian ilmiah.

B. Objek Tulisan
Implementasi Cyberpreneurship pada usaha kecil dan menengah (UKM) di Sulawesi Selatan dijadikan sebagai objek tulisan. Cyberpreneur atau infopreneur adalah mereka yang memanfaatkan cyberspace atau dunia maya untuk mengembangkan bisnis atau mendapatkan profit. Untuk mengaplikasikan konsep cyberpreneur dikembangkan konsep atau rumus dasar dalam mengaplikasikan konsep cyberpreneur, yaitu : Content – Traffic – Presell – Monetize. Dengan mengimplementasikan konsep cyberpreneurship, UKM diharapkan dapat memaksimalkan cyberspace atau dunia maya sebagai dunia tanpa batas dalam memasarkan produknya sehingga dapat meingkatkan pemasaran.

C. Pengumpulan Data
Data yang disajikan dalam tulisan ini bersumber dari berbagai literatur seperti buku, majalah dan jurnal.

D. Prosedur Penulisan
Data dan informasi yang terkumpul diseleksi sehingga diperoleh data dan informasi yang paling relevan dengan masalah yang dikaji dan selanjutnya disusun menjadi karya ilmiah

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Implementasi Cyberpreneur
Cyberpreneur berkaitan erat bagaimana seseorang berkreatifitas atau bagaimana membuat lapangan pekerjaan sendiri ( berwirausaha ) atau memasarkan produk usahanya dengan mengeluarkan ide-ide dan cara yang lebih fleksibel dalam berbisnis sehingga kita dapat membuat “sesuatu yang tidak mungkin di lakukan menjadi mungkin untuk kita lakukan”. yang semua itu dapat kita lakukkan di dunia maya/internet atau cyberspace.
Saat ini dengan adanya jaringan internet dan aplikasi-aplikasi yang mendukung kita untuk berinteraksi atau berbisnis itu tidak harus bertatatap muka langsung dengan rekanan, dan juga sangat mungkin meninggalkan pemikiran lama bagaimana cara membuat suatu usaha itu harus menggunakan modal yang besar, sehingga dengan memaksimalkan jaringan internet yang ada kita dapat menjadi seorang enterpreneur yang tanpa mengenal tempat, jarak dan waktu dalam menjalankan usaha atau bisnis.

Seorang cyberpeneur atau infopreneur adalah mereka yang kreatif menggunakan data dan informasi yang tersedia untuk menghasilkan informasi baru, mengelola dan menyebarluaskan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi pemakainya. Ia juga mempunyai visi, dapat mengembangkan kandungan informasi secara inventif dengan menggunakan media teknologi informasi.
Untuk mengaplikasikan konsep cyberpreneur maka dibutuhkan adalah Website dan blog. Memiiliki website atau blog sebagai sarana pemasaran secara online adalah suatu keharusan. Karena dengan memiliki website, membuat usaha atau bisnis UKM dapat diketahui selama 24 jam sehari.

Salah satu strategi pemasaran yang penting dari web adalah anda dapat menjelaskan secara rinci produk dan jasa yang dijual. Selain itu kita dapat membujuk pengunjung untuk membeli produk atau jasa anda. Oleh karena itu wbsite UKM hendaknya menyajikan informasi yang berguna, memiliki traffic yang tinggi, aplikasi memasarkan produk dan adanya search engine yang friendly.

Untuk mengaplikasikan konsep cyberpreneur, Wahyu Parmusinto (2008) mengemukakan konsep atau rumus dasar dalam mengaplikasikan konsep cyberpreneur, yaitu : Content – Traffic – Presell – Monetize.
Konsep di atas apabila diaplikasikan pada UKM dimaksudkan bahwa UKM yang ingin sukses berbisnis secara online dituntut untuk memiliki atau membangun website yang hidup sebagai usaha, oleh karena itu UKM tersebut harus memulianya dengan membangun Isi atau Content yang bermutu. Dengan adanya isi yang bagus akan menarik pengunjung atau Traffic akan meningkat. Setelah pengunjung datang tugas selanjutnya adalah membangun Pra Jual atau Presell yakni menarik hati pengunjung atau pelanggan.Selanjutnya kita membangun kepercayaan mereka pelanggan terhadap kita dan produk kita. Setelah itu baru pada saatnya kita akan mendatangkan uang dengan strategi Monetise yg tepat.
Adapun gambaran atau langkah mewujudkan konsep di atas adalah sebagai berikut :
a). Content
Pengusaha UKM Mengembangkan berbagai website yang menarik. Hal ini bertujuan untuk menjadikan web lebih kearah penyedia berita, layanan sms, layanan diskusi, layanan direktori atau hal umum yang diinginkan orang lain. Pelaku UKM juga dapat memanfaatkan Website sebagai katalog, online store, lelang blog dan lain-lain.
Pelaku UKM juga dapat memanfatkan Forum atau tempat diskusi lainnya menjadi media yang efektif sebagai alat promosi bisnis secara online . Manfaatkan tool signature yang diberikan oleh pemilik forum dengan link menuju web anda.
Pelaku UKM juga dapat menawarkan jasa pembuatan website, program, mengembangkan ruang iklan dengan script yang sudah ada atau dengan menyediakan ruang iklan baris bagi pelaku usaha lainnya. Berikut ini contoh halaman website dengan content yang cukup baik :

b). Traffic
Untuk meningkatkan traffic kita bias mengoptimalkan fungsi meisn pencari atau serach engine. Sebagian besar pengguna internet mencari informasi melalui search engine seperti Google, Yahoo, MSN dll sesuai dengan keyword atau kata kunci yang diinginkan atau dikenal dengan istilah SEO (Search Engine optimization). Umumnya pengguna hanya akan mengklik link yang teratas dari hasil pencariannya atau setidaknya link yang ada pada halaman pertama saja. Supaya website anda bisa tampil di halaman depan, optimasi terhadap website perlu dilakukan agar strategi pemasaran berhasil. Pelaku UKM dapat memasang iklan / adwords yang tepat di google adwords untuk bisa mendapatkan pengunjung yang banyak.

Pelaku UKM juga hendaknya membuat banner yang berubah. Pemasangan banner di situs yang memiliki banyak pengunjung tentu bisa menarik banyak pengguna internet untuk berkunjung ke situs anda. Pertukaran banner dengan situs sejenis juga dapat membantu optimasi web anda.

Pelaku UKM juga melakukan Affiliate program, yaitu melakukan update program menjadi menarik pengunjung.nWebsite yang berhasil adalah website UKM yang banyak dikunjungi orang minimal 1000 pengunjung perhari. Dan tentunya perlu proses untuk menghasilkan 1000 pengunjung. Berikut ini adalah contoh traffic dari sebuah web :

c). Presell
Presell secara sederhana bagaimana pengunjung terkesan dengan produk atau jasa yang ditawarkan atau termotivasi karena Content yg bagus.Biasanya pebisnis online mempunyai sebuah halaman presell page dengan mengungkapkan keinginan dengan bahasa seperti ini:

PESAN SEKARANG JUGA! , JANGAN TUNDA LAGI,AMBIL TINDAKAN SEKARANG JUGA! , JOIN DISINI!

Kata-kata seperti itu bisa membangkitkan semangat orang untuk membeli produk anda sekarang juga.Sampaikan maksud anda dengan jelas,singkat,padat,dan jujur.Anda tidak perlu malu,karena memang tujuan anda adalah menjual produk. Untuk membuat presell yang tepat pelaku UKM dapat melakukan langkah, antara lain : Memberikan rekomendasi produk dengan cara membandingkan beberapa produk, Digunakan pada website dengan tipe Blogs, Review, Comparation, dan Ditulis dengan bahasa inggris.

d). Monetize
Secara garis besar monetize adalah bagaimana website atau blog kita bisa menghasilkan sesuatu dalam bentuk finansial. Banyak cara atau program untuk memonetize website, antara lain : Selling Point yaitu jenis usaha dimana anda menjual sebuah produk. Baik itu berupa barang ataupun jasa seperti layanan konsultasi. Bedanya dengan afiliasi, anda menjual barang anda sendiri, bukan barang orang lain. Jadi anda harus memiliki produk dulu baru bisa masuk ke jenis usaha ini.

Affiliate Program adalah cara menghasilkan uang dengan mereferensikan suatu produk atau layanan dari pemasang iklan. Kita akan mendapatkan penghasilan jika ada yang melakukan transaksi dari kode affiliate kita.

Perusahaan besar di bidang internet sebagian besar memberikan layanan ini untuk meningkatkan penjualan mereka. Jadi ibaratnya adalah kita sebagai sales penjualan mereka. Contoh situs affiliate diantaranya cj.com amazon.com dan lain sebagainya.

Pay Per Click adalah program yang dari dulu sampai sekarang masih bertahan dan tetap menjadi andalan. Kita akan dibayar atau mendapat penghasilan jika ada user yang mengklik apa yang di tampilkan oleh pemasang iklan. Contoh program ini diantaranya adalah Google adsense, adbrite, adspeedy dan lain-lain.

Pay Per Post/ Review sistem ini merupakan baru dan sedang booming sekarang ini. Kita akan diberikan tugas oleh broker atau dari peursahaan langsung untuk mereviews produk atau jasa mereka. Dari posting atau reviews yang kita tulis, kita akan mendapatkan bayaran sesuai dengan yang telah disepakati sebelumnya. Namun sayangnya sistem seperti tidak disukai oleh sebagian besar mesin pencari dan dianggap kurang pair. Jadi harus lebih berhati-hati dalam mereviews, karena ada hubungannya dengan SEO blog anda. Contoh program ini diantaranya adalah reviewme.com atau sponsoredreviews.com. Contoh monotize terlihat pada halaman website sebagai berikut :

B. Contoh Aplikasi Pemasaran Online Produk UKM Sulsel
Untuk meng-online-kan UKM pada dasranya mirip seperti ketika menjual produk secara konvensional, yaitu memajang produk yang Anda jual di toko/showroom. Di internet pun, Anda juga harus memiliki tempat untuk memajang produk yang Anda jual, yang biasa disebut sebagai toko online.
Untuk membuat toko online, Anda harus memiliki :
1. Domain, yaitu alamat toko online di internet.
2. Hosting, yaitu tempat menaruh semua data yang terkait dengan produk yang Anda jual.
3. Design toko online yang dilengkapi fasilitas e-commerce, seperti :
• Tampilan produk yang cantik dilengkapi dengan informasi produk.
• Menampilkan produk terbaru dan produk dengan harga khusus/diskon/spesial.
• Menampilkan featured product/product unggulan.
• Mampu menampilkan variasi produk yang tersedia (warna, ukuran, dsb.) beserta masing-masing stok dan harganya.
• Memiliki shopping cart/keranjang belanja.
• Memiliki fasilitas tracking/pelacakan proses pesanan untuk pemilik toko maupun pembeli.
• Bisa melakukan kontrol stok barang.
• Notifikasi pemesanan via email.
• Bisa memasukkan pajak.
• Bisa melihat daftar pelanggan toko online.
• Bisa melihat laporan penjualan.

Dalam pemaparan ini dikemukakan contoh aplikasi pemasaran online produk UKM Suawesi Selatan yang merupakan bagian dari implementasi konsep cyberpreneurship. Sebagai contoh produk adalah berupa kerajinan tangan yang merupakan salah satu produk unggulan UKM di Sulawesi Selatan.

Berbagai aneka kerajinan tersebut telah menjadi souvenir khas Sulawesi Selatan sehingga tidak mengherankan bila banyak digemari oleh para wisatawan lokal dan asing yang mengunjungi daerah ini. Souvenir-souvenir tersebut mudah ditemukan di tempat-tempat wisata yang ada di Sulawesi Selatan,utamanya di daerah asal souvenir tersebut.

Melalui konsep cyberpreneurship, maka penjualan souvenir khas Sulawesi Selatan ditingkatkatkan pemasarannya melalui internet sehingga peluang besar untuk mendapatkan keuntungan juga meningkat apalagi dengan penjualan melalui internet maka pasarnya bisa menjangkau seluruh dunia dan cara kerja yang cukup sederhana.

Untuk dukungan penjualan, pelaku UKM dituntut memiliki kompetensi atau menyewa jasa untuk desain web, pemesanan dan pengiriman barang serta materi pendukung lainnya yang perlu disediakan dalam mendukung usaha ini. Dalam segi pemasaran, berbisnis melalui internet cukup mudah. Kerajinan/souvenir yang akan dipasarkan cukup dipasang di halaman web maka calon pembeli/pengunjung situs bisa mengaksesnya kapan dan di mana saja berada. Ketika pengunjung situs berminat membeli maka mereka tinggal mengisi form aplikasi yang tersedia dan transaksi bisa dilakukan berdasarkan ketentuan yang telah ada.

Berbagai cara yang bisa dilakukan dalam melakukan promosi/meningkatkan traffic penjualan antara lain mendaftarkan situs web ke mesin pencari (search engine) yang terkenal, promosi iklan, pertukaran link dan banner dengan web lain, mailing list, membuka forum diskusi bersama pengunjung yang online, dan mencari sponsor web.
Tujuan usaha yang hendak dicapai adalaha terpasarkan produk/souvenir khas Sulawesi Selatan di seluruh dunia sehingga bukan saja pengunjung yang datang ke Sulawesi Selatan yang mampu memiliki produk tersebut. Tujuan lainnya adalah menciptakan peluang pasar yang besar, Selain itu, tujuan lain yang bisa tercapai hádala meningkatkan pendapatan masyarakat di Sulawesi Selatan khususnya para pengrajin karena tentunya pesanan produk akan semakin banyak. Adapun gambaran sederhana proses penjualannya digambarkan sebagai berikut :
a. Rincian tugas
Adapun rincian tugas dari masing-masing pegawai diatur sebagaimana mestinya dan harus dikerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab guna memperoleh hasil sesuai yang direncanakan. Untuk itu tugas-tugas para pegawai adalah:
No Jabatan Tugas
1. Manajer usaha – Menangani pengadaan barang-barang yang dibutuhkan
– Mengatur dan mengawasi kerja anggota-anggotanya
– Memberikan arahan kepada anggotanya
– Melakukan kerjasama dengan para pengrajin dan
membuka jaringan lain.
2. Administrator Web – Mengelola proses transaksi dan melayani
pengunjung online di web
– Melakukan pengecekan secara kontinyu terhadap
keadaan web
3. Tenaga administrasi – Menangani administrasi usaha
– Memegang pembukuan
– Mengelola persuratan kontrak
4. Kurir produk – Melakukan proses pengecekan barang yang dikirm
oleh pengrajin berdasarkan daftar pesanan
– Mengurus proses pengiriman barang ke alamat
Pembeli

2. Proses produksi
a. Pemesanan Souvenir
Pengunjung web yang tertarik membeli souvenir dapat memesan produk yang diinginkan melalui keranjang belanja yang disediakan atau tinggal mengklik tulisan/perintah di bagian bawah dari produk yang ingin dibeli dengan terlebih dahulu mengisi aplikasi pemesanan yang memuat boidata pemesan untuk mempermudah pengiriman souvenir. Untuk mempermudah calon pembeli dari luar negeri maka layanan bahasa pada halaman web kami akan menggunakan beberapa Bahasa, Selain Bahasa Indonesia maka kami juga akan menggunakan layanan Bahasa, Inggris dan Bahasa Jerman. belanja yang disediakan akan memuat kode produk, berat per produk, jumlah pesanan, harga per produk serta total berat dan keseluruhan uang yang harus dibayarkan khusus untuk produk yang dipesan sementara untuk ongkos kirim akan dihitung sendiri melalui layanan Link di web kami ke Jasa Layanan Pengiriman Barang Tiki sehingga calon pembeli bisa menghitung sendiri ongkos kirim produk. Pemilihan Jasa Layanan Pengiriman Barang Tiki karena jasa layanan ini bisa melayani pengantaran barang baik di dalam dan luar negeri serta proses pengiriman yang cepat.

b. Pembayaran Souvenir
Pembayaran dilakukan melalui Bank rekening bank yang telah ditetapkan oleh pelaku UKM. Sistem pembayaran yang akan diterapkan dalam usaha ini melalui 2 (dua) cara disesuaikan dengan jumlah souvenir yang dipesan. Sistem pembayaran yang dimaksud adalah:
 Bayar langsung, yaitu apabila calon pembeli memesan souvenir di bawah 10 (sepuluh) buah setiap item barang maka calon pembeli langsung mengirimkan total uang yang harus dibayarkan termasuk ongkos kirim ke no. rekening tersebut di atas.
 Bayar Uang muka, yaitu apabila calon pembeli memesan souvenir di atas 10 (sepuluh) buah setiap item barang maka calon pembeli cukup mengirimkan uang muka sebesar 50 % dan sisanya ditambah dengan ongkos kirim akan dibayarkan/dikirim ketika souvenir telah siap kirim.
c. Pembuatan Souvenir
Pembuatan souvenir akan segera dikerjakan oleh pengrajin ketika telah mendapatkan konfirmasi pemesanan dari kami dengan ketentuan salah satu proses pembayan tersebut di atas telah dipenuhi oleh calon pembeli. Untuk mempermudah proses pemesanan ke pengrajin maka dibuatkan katalog produk yang akan menjadi pegangan kami dan pengrajin. Untuk pembelian secara partai yang lebih dari 10(sepuluh) buah per item maka ketika pengerjaan telah mencapai 50 %, kami akan mengirimkan foto-foto perkembangan (progress report) souvenir yang telah dipesan melalui email begitu juga pada tahap akhir (finishing).
d. Pengiriman Souvenir
Proses pengiriman souvenir ke alamat pemesan akan dilakukan ketika semua urusan administrasi telah rampung termasuk pembayaran produk ditambah dengan ongkos kirim. Untuk proses pengiriman barang, kami telah menetapkan Jasa Pengiriman Barang Tiki karena proses pengirimannya cepat dan mampu menjangkau wilayah dalam dan luar negeri. Tahap awal produk akan kami langsung ke kantor Tiki tapi lebih lanjut akan kami upayakan untuk kerjasama yaitu barang akan langsung dijemput oleh Tiki di workshop thecelebesmerchandise.com.

3. Rencana pemasaran
a. Penentuan harga jual
Dalam hal ini penentuan harga jual akan mengikuti besar tidaknya harga produksi dari tiap item souvenir. Untuk harga produksi telah ditetapkan oleh pengrajin sendiri sementara untuk harga jual kami akan mengambil keuntungan sebesar Rp. 10.000,- per produk.
b. Jumlah produk yang dijual
Jumlah produk yang dijual disesuaikan dengan jumlah pesanan yang masuk. Rencana jumlah pesanan produk yang masuk selama satu semester awal 1500 produk. Banyaknya pesanan tentunya akan memberikan keuntungan yang besar.
c. Cara pemasaran produk
Untuk memasarkan produk ukm,ada beberapa cara yang diharapkan mampu meningkatkan jumlah pengunjung situs yang secara langung diharapkan pula mereka bisa berminat untuk melakukan transaksi terhdapap souvenir-souvenir yang ukm pasang di halaman web http://www.thecelebesmerchandise.com. Beberapa cara yang dimaksud adalah:
 mendaftarkan situs web ke mesin pencari (search engine) yang terkenal, seperti yahoo, google, altavista, msn dan sebagainya. Untuk web submission, kita bisa melakukan secara manual atau memakai sofware submission.
 promosi iklan, yaitu promosi situs di jasa iklan baris gratis dengan menempatkan sesuai jenis dan kategorinya.
 pertukaran link dan banner dengan web lain yang mempunyai kesamaan misi dengan web ukm.
mengelola mailing list, sehingga pengunjung akan senantiasa mengunjungi web ukm.
membuka forum diskusi bersama pengunjung yang online, dan
 mencari sponsor web, yaitu mencari web yang identik dengan web ukm untuk diajak menjadi sponsor web. Dengan mengajak menjadi sponsor web maka ukm mengharapkan posisi ukm sedikit terangkat dan lebih cepat dikenal publik.
d. Sasaran pengguna produk
Sasaran pengguna produk ukm yaitu kalangan masyarakat menengah ke atas, baik dalam dan luar negeri. Olehnya itu ukm menggunakan beberapa layanan bahasa pada halaman web ukm.
e. Kebijaksanaan penjualan
Dalam usaha ini ukm akan memberikan bonus berupa potongan harga bagi konsumen yang membeli banyak.

C. Manfaat UKM Berbisnis Secara Online

Secara spesifik, manfaat UKM berbisnis secara online dikemukakan oleh…, sebagai berikut :

1. Memperluas pemasaran
Hambatan terbesar dari UKM adalah pasar yang terbatas. Dengan pasar yang terbatas semacam ini, tentu sulit diharapkan UKM dapat mengembangkan pemasaran. Untuk memperluas pasarnya, dibutuhkan dana yang tidak sedikit dan ini menjadi penyulit bagi para pemilik UKM yang memiliki modal yang tidak terlalu besar. Padahal seperti yang kita tahu, produk-produk yang dihasilkan oleh UKM di Indonesia banyak dilirik dan diminati oleh pasar dunia.

Dengan hadirnya internet yang sekarang ini sudah semakin murah biayanya, tentunya dapat menumbuhkan kembali kesempatan meraih peluang pasar bagi UKM. Kali ini pasar yang dapat direngkuh bukan cuma pasar dalam negeri, tapi juga pasar dunia. Dan tidak terbatas lagi pada daerah, wilayah atau kawasan tertentu. Karena dengan kehadiran internet dapat memperpendek jarak geografis dan melintasi batasan waktu.

2. Melayani pembeli 24 jam
Dengan cara konvensional, pemilik UKM hanya bisa melayani pembeli selama hari kerja dan jam kerja. Sedangkan dengan menggunakan internet, pembeli bebas melihat-lihat produk dan membeli produk yang disukainya kapan pun dia mau 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu.

3. Melayani banyak pembeli sekaligus
Pemilik UKM tidak perlu lagi merasa kewalahan melayani banyak pembeli dalam waktu yang bersamaan dan pembeli pun tidak perlu antri menunggu untuk dilayani, karena dengan internet, pembeli bisa langsung memilih produk dan menyelesaikan proses pembayaran tanpa perlu menunggu Anda melayani pembeli lain yang terlebih dahulu datang.

4. Mempermudah komunikasi dengan pelanggan
Pemilik UKM bisa berkomunikasi dengan pelanggan secara cepat meskipun terpisah jarak dan waktu. Pemilik UKM bisa kapan saja mengirimkan email berisi promosi/diskon yang sedang diadakan kepada banyak pelanggan sekaligus dalam waktu bersamaan. Pemilik UKM juga bisa berdiskusi secara langsung/real time dengan pelanggan yang menginginkan penjelasan tentang suatu produk.

Dengan melihat besarnya potensi website dalam upaya meningkatkan produksi pemasaran, pelaku UKM saatnya tidak sekedar membangun situs web tradisional sebagai alat bantu pemasaran. Tujuan / goal sebuah situs web UKM dikembangkan untuk menarik pengunjung, untuk meningkatkan awareness dari jasa & produk, kesuksesan sebuah situs web ditentukan dari tinggi-nya traffic.

Dengan konsep cyberpreneur, website UKM tidak lagi merupakan alat pemasaran, melainkan diimplementasikan lebih lanjut untuk mempererat antara penjual dan pembeli. Hal ini akan terjadi pada saat si pembeli bukan hanya sekedar aware akan produk yang dijajakan tapi juga ingin membeli produk tersebut saat itu juga (on the spot). Berarti tujuan sebuah e-toko, e-mall adalah untuk menarik para pembeli, dan kesuksesan diukur dari nilai transaksi jual beli yang terjadi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dari uraian sebelumnya dalam karya tulis ini, selanjutnya dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Usaha kecil dan menengah (UKM) tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi jumlah usaha (establishment) maupun dari segi penciptaan lapangan kerja.
2. Era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang berkembang sangat cepat telah memaksa kita mempersiapkan diri mau tidak mau untuk masuk dan menjadi bagian aktif dari masyarakat ekonomi-informasi. Internet economy’ mendorong globalisasi dan “networking” dunia usaha.
3. Pengembangan UKM berbasis teknologi informasi (IT) menjadi sangat penting bila melihat kondisi cakupan geografis Indonesia yang begitu luas dengan sumber daya yang tersebaR, sehingga diperlukan suatu jaringan yang terintegrasi dan terpadu melalui teknolgi informasi dan komunikasi yang tepat yang akan membentuk jaringan pusat pusat komoditi unggulan.
4. Telecenter adalah merupakan tempat mengakses informasi, berkomunikasi dan mendapatkan pelayanan sosial dan ekonomi dengan menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan sambungan ke internet. Kegiatan ini telah dideklarasikan di Geneva tahun 2003 bahwa untuk tahun 2015 diharapkan seluruh Desa di Dunia sudah terhubung secara online.
5. Layanan-layanan dan teknologi Telecenter dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tertentu yang dilayaninya. Meskipun Telecenter bervariasi dalam hal layanan dan teknologi yang ditawarkannya, sebagian besar menyediakan akses kepada telepon, SMS, faks, komputer, dan Internet (termasuk e-mail dan Jaringan Jembar Jagad atau Web Dunia/www).

6. MCT (Multipurpose Community Telecenters) merupakan tempat dimana masyarakat bisa memperoleh dukungan teknologi komunikasi dan informasi (ICT-Information and Communication Technology) untuk mengakses berbagai layanan secara aman.
7. MCT ini diharapkan akan dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat, antara lain: e-government (e-public service, layanan publik), e-learning (distance/open learning – layanan pendidikan), e-commerce (SME-center, untuk jaringan bisnis UKM), dan lain sebagainya
8. Dalam hal pengembangan bisnis UKM, Implementasi MCT diwujudkan dalam bentuk optimalisasi pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dalam pemberdayaan dan pengembangan UKM antara lain melalui jaingan SME-Center, pengadaan web site internet bagi UKM, Komputerisasi UKM, Virtual Office, dan layanan teknologi informasi lainnya.
9. Pengembangan MCT bersifat terbuka bagi siapa saja yang memiliki concern dalam pengembangan UKM berbasis pemanfaatan IT.Dengan pendekatan komunitas maka sangat diharapkan aksesibilitas justru bisa menjangkau masyarakat secara lebih luas dan dengan skala biaya dan efisiensi yang bisa dijaga.
10. Telah dibentuk CD-SMEs (Center for Development of Small Medium Enterprises) yang berfungsi memfasilitasi pengembangan kewirausahaan UKM, akses informasi, akses pasar, akses infrastruktur, serta sebagai pusat “virtual” dengan memanfaatkan jaringan komunikasi dan informasi yang menjadi jalinan titik singgah/simpul (“node”) dari jalinan bisnis lokal menuju jalinan bisnis internasional melalui simpul-simpul lain di setiap negara.
11. Hal yang paling penting adalah menjalin sinergi atau bekerjasama dengan pemerintah daerah, khususnya dalam rangka otonomi daerah. Pemerintah daerah memiliki power dan juga resource di daerah itu, yang dapat diagregat untuk mendorong kegiatan-kegiatan ekonomis dan pemerintah daerah juga terlibat.
12. Harus dijalin pula sinergi dengan investor-investor lainnya. Yang juga penting menjadi perhatian dalam pengembangan MCT adalah tidak hanya aksesibilitas, melainkan juga SDM dan skema pembiaya (micro finance), yang akan sangat banyak membantu secara operasional di lapangan.

B. SARAN
1. Kepada para pelaku UKM agar memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi informasi dalam memajukan usaha seperti program komputerisasi, pemnafaatan website, virtual office dan pemnafaatan jaringan UKM.
2. Pemerintah dan berbagai pihak agar memberikan perhatian khusus dalam upaya pemberdayaan dan pengembangan UKM melalui program yang berkelanjutan dan tidak hanya beroriewntasi “proyek” semata.
3. Pemerintah, LSM, Perguruan tinggi dan masyarakat secara luas agar bersinergi dalam memanfaatkan teknologi infrmasi secara optmal untuk pemberdayaan UKM dan kemjaun ekonomi pada umumnya.
4. Kepada seluruh masyarakat luas dan komponen yang terkait agar mensosialisasikan pentingnya pemanfaatan IT untuk kemajuan ekonomi dan UKM pada khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

Alisyahbana, Iskandar. 1997. Cyber-Space Dari Peradaban Gelombang Ketiga. Elektro Indonesia Hal. 3-6.

Suarga, M.Sc. 2001. Cyber Campus Sarana Pendidikan Masa Depan. Makalah disampaikan dalam seminar regional Peluang dan Tantangan pendidikan di era Globalisasi.

Amang, Beddu. 1995. Ekonomi Rakyat, Usaha Kecil, dan Koperasi. Jakarta: PT. DharmaKarsa Utama.

Anggawirya, E. 2001. Mengenal internet. Jakarta: PT. Contara Rajawali.

Hudha Sakti, Pilihan Publik Sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) Terhadap

Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang Di Bidang Permodalan, Skripsi-Fakultas Ekonomi Univ, Brawijaya Malang, 2006
Tahir, dkk Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Pembinaan

Kelompok Usaha Sektor Informal di Sulawesi Selatan, Laporan Penelitian, Balitbangda Sulsel, 2006

Wahid. 2000. Welcome to cyberspace. Yogyakarta: Profesi FT UII.

Nurhidayanto, 2009, Menduniakan Pemasaran produk UKM,

http://nurhidayanto.blogspot.com/2009/04/menduniakan-pemasaran-produk-ukm.html, didownload tanggal 5 Juli 2009

Taryono Putranto, 2009, Membuat e-comm bagi ukm,

http://taryonoputranto.wordpress.com/category/store/membuat-e-comm-bagi-ukm/, didownload tanggal 5 Juli 2009

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: